| dc.description |
Perubahan sosial–kultural pada era globalisasi terjadi secara intensif dan
meluas, ditandai oleh derasnya arus informasi, penetrasi budaya populer global,
serta transformasi gaya hidup remaja yang semakin dipengaruhi oleh media digital.
Dinamika ini menciptakan proses cultural shifting yang dapat melemahkan
keterikatan generasi muda pada identitas budaya asalnya, karena nilai-nilai lokal
seringkali terpinggirkan oleh nilai global yang dianggap lebih modern dan
prestisius (Hall, 1996; Appadurai, 2000). Pada fase perkembangan remaja—yang
merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas diri—paparan budaya
global tanpa filter dapat menimbulkan disorientasi nilai dan melemahnya rasa
memiliki terhadap komunitas etnis maupun lokal (Erikson, 1968). Dalam konteks
ini, identitas budaya berfungsi sebagai modal sosial yang membantu individu
memahami dirinya, memperkuat kohesi sosial, serta menjadi penopang ketahanan
budaya masyarakat secara lebih luas (Putnam, 2000). Oleh karena itu, penguatan
peran pemuda menjadi sangat strategis, mengingat mereka tidak hanya menjadi
kelompok yang paling rentan terhadap perubahan, tetapi juga memiliki kapasitas
kreatif dan adaptif untuk menegosiasikan, merevitalisasi, dan melestarikan budaya
lokal melalui berbagai arena sosial, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang
terstruktur dan berkelanjutan.Arus globalisasi, percepatan teknologi informasi,
serta modernisasi telah menciptakan transformasi sosial budaya yang signifikan.
Pemuda sebagai kelompok paling adaptif terhadap perubahan menghadapi
tantangan besar dalam mempertahankan identitas dan budaya lokal. Identitas
budaya, yang mencakup nilai, simbol, bahasa, dan tradisi, menjadi pondasi
karakter kebangsaan. Namun, penetrasi budaya global berpotensi mengikis
keterikatan pemuda terhadap budaya asalnya.
Pemuda memegang peran strategis dalam menentukan arah perkembangan
sosial dan budaya suatu bangsa, karena pada fase ini mereka berada pada tahap
pencarian jati diri, pembentukan nilai, serta penguatan orientasi sosial. Berbagai
teori sosiologi pemuda menegaskan bahwa remaja dan mahasiswa merupakan
agent of change yang memiliki kapasitas untuk mendorong transformasi sosial
melalui keterlibatan aktif dalam lingkungan pendidikan, komunitas, serta
organisasi kemasyarakatan (Hurlock, 2011; Parsons, 1964). Dalam perspektif teori
identitas sosial, identitas individu terbentuk melalui proses kategorisasi,
identifikasi, dan perbandingan sosial yang menghubungkan seseorang dengan
kelompok tempat ia bernaung (Tajfel & Turner, 1986). Keterlibatan pemuda dalam
aktivitas kelompok, termasuk kegiatan ekstrakurikuler, menjadi wahana penting
yang menyediakan pengalaman budaya, internalisasi nilai, serta penguatan rasa
memiliki terhadap komunitas lokal. Melalui interaksi tersebut, terbentuklah
orientasi identitas yang tidak hanya memperkuat karakter personal tetapi juga
meneguhkan ketahanan budaya lokal. Dengan demikian, aktivitas ekstrakurikuler
berfungsi sebagai arena sosialisasi budaya dan pembentukan identitas kolektif
yang memungkinkan pemuda berperan lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan
warisan sosial-budaya di tengah dinamika perubahan global yang semakin cepat
(Hall, 1996; Giddens, 2002).
Pemuda sebagai agen perubahan memiliki peran strategis dalam menjaga
dan memperkuat ketahanan identitas serta budaya lokal, terutama di tengah
derasnya arus globalisasi yang sering memicu homogenisasi budaya dan
melemahkan nilai-nilai kearifan lokal. Dalam konteks tersebut, kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah maupun komunitas menjadi ruang pembelajaran
nonformal yang efektif untuk internalisasi nilai, pembentukan karakter, dan
pelestarian budaya melalui pengalaman langsung dan partisipasi aktif. Aktivitas
seperti pramuka, organisasi kepemudaan, seni tradisi, olahraga, hingga kegiatan
keagamaan terbukti mampu membangun kesadaran identitas, memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal, serta mengembangkan kompetensi sosial seperti
kepemimpinan, kedisiplinan, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial (Huda, 2020;
Tilaar, 2018). Berbagai studi juga menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam
kegiatan berbasis budaya lokal berkontribusi pada pembentukan resilience budaya,
yaitu kemampuan komunitas untuk mempertahankan nilai-nilai asli sambil
beradaptasi dengan perubahan sosial (Syafril & Ningsih, 2021). Namun demikian,
kajian yang secara khusus mengintegrasikan perspektif ketahanan budaya lokal
dengan mekanisme pembinaan dalam kegiatan ekstrakurikuler masih relatif
terbatas. Kekosongan ini menimbulkan kebutuhan akan penelitian yang lebih
sistematis untuk merumuskan model pemberdayaan pemuda yang berbasis pada
pendekatan kultural, partisipatif, dan kontekstual sehingga dapat memperkokoh
identitas lokal dalam jangka panjang (Syarifuddin, 2019; Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2020). Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk
mengisi celah pengetahuan dan menghasilkan landasan empiris dalam merancang
strategi penguatan ketahanan budaya melalui peran aktif pemuda. |
en_US |
| dc.description.abstract |
Arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi telah mendorong perubahan
sosial-kultural yang memengaruhi pola pikir, gaya hidup, serta orientasi nilai generasi
muda. Dalam situasi ini, identitas budaya lokal menghadapi tekanan dari dominasi
budaya global yang kerap dianggap lebih modern dan prestisius. Penelitian ini
bertujuan menganalisis peran strategis pemuda dalam memperkokoh ketahanan
identitas budaya lokal melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Berlandaskan teori identitas sosial dan cultural transmission, kegiatan ekstrakurikuler
dipandang sebagai ruang pembelajaran nonformal yang memfasilitasi internalisasi
nilai, pewarisan budaya, dan penguatan jati diri kolektif. Pendekatan kualitatif
digunakan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di
sejumlah sekolah serta komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi
pemuda dalam kegiatan seni tradisi, organisasi kepemudaan, kepramukaan, kegiatan
keagamaan, dan komunitas berbasis budaya berkontribusi signifikan terhadap
penguatan rasa memiliki, pemahaman terhadap kearifan lokal, serta pembentukan
karakter sosial seperti kepemimpinan, kolaborasi, dan tanggung jawab komunitas.
Temuan juga mengidentifikasi sejumlah hambatan, termasuk keterbatasan dukungan
institusional, minimnya integrasi nilai budaya dalam program ekstrakurikuler, serta
belum adanya model pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini
menegaskan pentingnya penguatan ekosistem pembinaan pemuda berbasis budaya
melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan
organisasi kepemudaan. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan menjadi landasan
dalam merancang strategi pengembangan program ekstrakurikuler yang mampu
meningkatkan peran pemuda sebagai agen pelestari budaya lokal di tengah dinamika
perubahan global yang semakin cepat. |
en_US |