| dc.description.abstract |
Masih kuatnya peran tengkulak dalam rantai pasok jagung memengaruhi posisi tawar petani melalui penguasaan modal, informasi harga, dan akses pasar. Penelitian bertujuan untuk menganalisis peran tengkulak dalam sistem distribusi jagung tradisional, mengkaji bentuk dan mekanisme relasi kekuasaan yang terbentuk antara petani dan tengkulak, serta menganalisis dampaknya terhadap kesejahteraan petani dan keberlanjutan sistem distribusi jagung lokal. Penelitian ini menggunakan landasan teori rantai pasok, konsep peran dalam sistem agribisnis, serta teori relasi kekuasaan dan patron-klien sebagai kerangka analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap 11 informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas petani, tengkulak, dan pengelola BUMDes. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tengkulak mengalami pergeseran dari penyedia modal menjadi pengumpul hasil panen, penghubung pasar, dan pembeli jagung. Relasi kekuasaan yang terbentuk tidak lagi didominasi oleh ketergantungan ekonomi, melainkan lebih didasarkan pada kepercayaan, kemudahan transaksi, dan hubungan sosial. Kondisi tersebut turut meningkatkan posisi tawar petani karena sebagian besar telah mampu menjual hasil panen secara langsung ke pabrik pakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dominasi tengkulak mulai berkurang, meskipun perannya sebagai bagian dari rantai pasok lokal masih tetap diperlukan. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan petani, peningkatan akses informasi pasar, dan dukungan pembiayaan formal perlu terus dikembangkan guna mewujudkan sistem distribusi jagung yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan. |
en_US |