Abstract:
Latar Belakang: Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Keberhasilan pemberian ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi psikologis ibu, terutama tingkat stres. Stres dapat meningkatkan hormon kortisol yang berpotensi menghambat refleks oksitosin (let-down reflex), sehingga memengaruhi pengeluaran ASI dan berdampak pada volume ASI. Teori psikoneuroendokrinologi menjelaskan bahwa kondisi psikologis ibu berhubungan dengan mekanisme hormonal yang memengaruhi proses laktasi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan volume ASI pada ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 53 ibu menyusui, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan responden. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan volume ASI diukur menggunakan lembar observasi indikator kecukupan ASI. Analisis data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden mengalami tingkat stres kategori sedang sebanyak 33 orang (62,3%), sedangkan 20 orang (37,7%) mengalami stres berat. Sebagian besar responden memiliki volume ASI dalam kategori cukup sebanyak 46 orang (86,8%), sedangkan 7 orang (13,2%) memiliki volume ASI kurang. Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,405 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan volume ASI pada ibu menyusui. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan volume ASI pada ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya. Kecukupan volume ASI diduga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti frekuensi menyusui, teknik pelekatan bayi, pengalaman menyusui, status gizi ibu, kondisi kesehatan ibu dan bayi, serta dukungan keluarga.