Abstract:
Latar Belakang : Abortus imminens merupakan komplikasi awal kehamilan yang
paling sering dijumpai pada trimester pertama. Data RSUD Pandega Pangandaran
menunjukkan peningkatan kasus dari 102 kasus pada tahun 2024 menjadi 151 kasus
pada tahun 2025. Aktivitas seksual diduga memicu kontraksi miometrium akibat
stimulasi mekanis, pelepasan oksitosin, serta paparan prostaglandin dalam cairan
semen.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara riwayat
aktivitas seksual pada trimester 1 dengan kejadian abortus imminens di RSUD
Pandega Pangandaran Tahun 2025.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain
observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah
seluruh ibu hamil trimester 1 (0–12 minggu) di RSUD Pandega Pangandaran
sebanyak 249 orang dengan jumlah sampel sebanyak 75 ibu hamil yang diperoleh
menggunakan teknik simple random sampling dari data sekunder rekam medis.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square
serta kalkulasi Odds Ratio (OR).
Hasil : Dari 75 ibu hamil menunjukkan 40 ibu hamil (53,3%) memiliki riwayat
melakukan aktivitas seksual dan 46 ibu hamil (61,3%) didiagnosis mengalami
abortus imminens. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara riwayat aktivitas seksual pada trimester 1 dengan kejadian abortus
imminens (p-value = < 0,001), Odds Ratio (OR) Sebesar 15,273 dan (95% CI:
4,703-49,596), yang menandakan ibu hamil trimester 1 yang melakukan aktivitas
seksual memiliki peluang risiko 15,27 kali lebih besar mengalami abortus imminens
dibandingkan ibu hamil yang tidak melakukan aktivitas seksual.
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat aktivitas seksual
pada trimester 1 dengan kejadian abortus imminens di RSUD Pandega
Pangandaran. Tenaga kesehatan disarankan untuk meningkatkan pemberian
edukasi dan konseling prenatal (pelvic rest maupun modifikasi koitus aman seperti
penggunaan kondom) sejak kunjungan kehamilan pertama (K1).