Abstract:
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara optimal selama enam bulan pertama kehidupan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kelancaran produksi ASI dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD merupakan proses pemberian kesempatan kepada bayi untuk melakukan kontak kulit dengan ibu dan mulai menyusu dalam satu jam pertama setelah dilahirkan. Proses ini dapat merangsang kerja hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan dalam proses pembentukan dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan produksi ASI selama enam bulan pertama di wilayah kerja Puskesmas Baregbeg Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi berusia 0–6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Baregbeg, dengan jumlah 35 orang. Seluruh populasi dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terkait pelaksanaan IMD dan produksi ASI. Data selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah melaksanakan IMD, yaitu 24 orang (68,6%), sedangkan 11 orang (31,4%) tidak melaksanakan IMD. Produksi ASI responden sebagian besar termasuk dalam kategori baik sebanyak 20 orang (57,1%), kategori cukup sebanyak 8 orang (22,9%), dan kategori kurang sebanyak 7 orang (20,0%). Hasil analisis bivariat memperoleh p-value sebesar 0,006 (p < 0,05) dengan nilai Odds Ratio sebesar 13,200. Dengan demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara pelaksanaan IMD dengan produksi ASI selama enam bulan pertama. Ibu yang melaksanakan IMD memiliki peluang 13,2 kali lebih besar untuk memiliki produksi ASI yang lebih baik dibandingkan ibu yang tidak melaksanakan IMD. Diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan pemberian edukasi dan pendampingan kepada ibu mengenai pentingnya pelaksanaan IMD serta keberlanjutan menyusui untuk mendukung produksi ASI yang optimal.