| dc.description.abstract |
ASI eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain kecuali obat, vitamin, dan mineral sesuai indikasi medis. Cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah 103 ibu yang memiliki bayi berusia 6–11 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,3% responden memiliki sosial budaya yang mendukung pemberian ASI eksklusif dan 60,2% memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sosial budaya dan pemberian ASI eksklusif (p=0,001). Responden dengan sosial budaya yang tidak mendukung memiliki peluang 10,629 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan responden dengan sosial budaya yang mendukung. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa sosial budaya berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan berbasis budaya yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan.
Kata kunci: ASI eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain kecuali obat, vitamin, dan mineral sesuai indikasi medis. Cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah 103 ibu yang memiliki bayi berusia 6–11 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jadikarya menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,3% responden memiliki sosial budaya yang mendukung pemberian ASI eksklusif dan 60,2% memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sosial budaya dan pemberian ASI eksklusif (p=0,001). Responden dengan sosial budaya yang tidak mendukung memiliki peluang 10,629 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan responden dengan sosial budaya yang mendukung. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa sosial budaya berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan berbasis budaya yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan.
Kata kunci: ASI eksklusif, cross-sectional, ibu menyusui, sosial budaya. |
en_US |