Abstract:
Simpang staggered tak bersinyal pada Jalan Nasional Rajapolah–Tasikmalaya merupakan bagian dari jaringan jalan arteri primer yang memiliki peranan penting dalam mendukung mobilitas antarwilayah. Kondisi geometrik berupa dua simpang tiga lengan yang bergeser dengan jarak yang relatif dekat, tingginya volume lalu lintas pada jalan mayor, serta dominasi konflik pergerakan belok kanan berpotensi menurunkan kinerja operasional dan keselamatan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja dan tingkat keselamatan lalu lintas eksisting, serta menentukan skenario penanganan paling efektif pada lokasi penelitian.
Metode penelitian dilakukan melalui survei lapangan untuk memperoleh data geometrik dan volume lalu lintas jam puncak, serta pengumpulan data historis kecelakaan periode 2022–2025 dari Satlantas Polres Tasikmalaya Kota. Analisis kinerja makroskopik dilakukan menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2023). Analisis keselamatan menggunakan metode Equivalent Accident Number (EAN) dan Upper Control Limit (UCL) untuk mengidentifikasi status Black Spot. Selanjutnya, pemodelan dan simulasi mikroskopik dilakukan menggunakan PTV VISSIM yang telah divalidasi dengan kriteria nilai GEH<5. Dua skenario penanganan diuji, yaitu Alternatif 1 (perbaikan geometrik/pelebaran badan jalan) dan Alternatif 2 (penerapan APILL, fasilitas U-Turn, dan kanalisasi median jalan).
Hasil analisis PKJI 2023 menunjukkan kondisi oversaturation pada kedua simpang, yaitu derajat kejenuhan (DJ) sebesar 1,05 pada Simpang A (Jl. Sukahening) dan 1,04 pada Simpang B (Jl. Stasiun) dengan kategori Level of Service (LOS) C (tundaan 21,57 det/SMP dan 20,99 det/SMP). Berdasarkan analisis EAN, kedua lokasi teridentifikasi sebagai Black Spot karena nilai EAN maksimum melampaui nilai UCL, yaitu Simpang A (EAN 18,00>UCL 14,97) dan Simpang B (EAN 12,00>UCL 4,55). Hasil validasi PTV VISSIM menghasilkan nilai GEH=2,82 dengan kondisi eksisting mencatatkan tundaan 53,32 detik/kendaraan (LOS D) dan antrean maksimum 239,44 meter. Simulasi penanganan membuktikan bahwa Alternatif 2 memberikan peningkatan kinerja paling optimal dengan menekan tundaan rata-rata menjadi 14,91 detik/kendaraan (efisiensi 72,04%), meningkatkan kinerja menjadi LOS B, serta membatasi ekor antrean maksimum secara drastis hingga 25,90 meter. Selain itu, Alternatif 2 secara efektif mengeliminasi titik konflik silang di inti simpang, sehingga menjadi solusi terbaik dalam menuntaskan kemacetan sekaligus menanggulangi status Black Spot.