Abstract:
Beban kurikulum dan tuntutan kompetensi yang tinggi pada pendidikan keperawatan berpotensi memicu stres akademik pada mahasiswa. Ketika tekanan psikologis tersebut melebihi kapasitas kemampuan individu, mahasiswa cenderung menerapkan mekanisme koping maladaptif, salah satunya berupa prokrastinasi akademik atau penundaan penyelesaian tugas-tugas akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stres akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas Galuh Ciamis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 64 mahasiswa keperawatan tingkat tiga Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh anggota populasi dijadikan responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, yaitu kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk mengukur stres akademik (16 item) dan kuesioner Procrastination Assessment Scale for Students (PASS) untuk mengukur prokrastinasi akademik (21 item). Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji statistik korelasi Spearman Rank (alpha = 0,05). Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres akademik kategori sedang yaitu sebanyak 37 orang (57,8%) dan sisanya kategori rendah (42,2%). Untuk variabel prokrastinasi akademik, mayoritas berada pada kategori sedang sebanyak 34 orang (53,1%), kategori tinggi sebanyak 29,7%, dan kategori rendah sebanyak 17,2%. Hasil uji bivariat menunjukkan nilai signifikansi p-value sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,530. Terdapat hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan hubungan berkategori sedang antara stres akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa keperawatan di Universitas Galuh Ciamis. Kesimpulan penelitian ini semakin tinggi tingkat stres akademik yang dialami oleh mahasiswa, maka semakin tinggi kecenderungan untuk melakukan prokrastinasi akademik. Berdasarkan hasil ini, institusi pendidikan disarankan untuk mengembangkan program manajemen stres dan pelatihan regulasi diri bagi mahasiswa untuk mengurangi perilaku penundaan akademik.