Abstract:
Sistem pemeliharaan fasilitas stasiun merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi
dan fungsi fasilitas agar tetap memenuhi standar teknis perkeretaapian yang berlaku.
Stasiun Ciamis sebagai salah satu stasiun kelas II dalam cakupan Daerah Operasi 2
Bandung memiliki berbagai fasilitas yang memerlukan pemeliharaan secara berkelanjutan.
Berdasarkan kondisi lapangan, masih terdapat fasilitas yang memerlukan peningkatan
sehingga diperlukan evaluasi kondisi fasilitas dan strategi peningkatan sistem
pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi fasilitas Stasiun Ciamis
berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 63 Tahun 2019, mengidentifikasi
faktor internal dan eksternal sistem pemeliharaan, serta merumuskan strategi
peningkatannya menggunakan analisis SWOT.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap 38
indikator fasilitas berdasarkan enam aspek SPM, yaitu keselamatan, keamanan, keandalan,
kenyamanan, kemudahan, dan kesetaraan. Wawancara dilakukan terhadap enam informan
yang dipilih secara purposive untuk memperoleh informasi mengenai sistem dan
pelaksanaan pemeliharaan fasilitas. Hasil wawancara dianalisis melalui reduksi,
pengelompokan tema, perbandingan antar-informan, dan sintesis. Hasil observasi dianalisis
menggunakan Indeks Kepatuhan, sedangkan faktor internal dan eksternal dianalisis
menggunakan Matriks IFAS dan EFAS dengan metode Rank Sum Method. Hasil analisis
IFAS dan EFAS selanjutnya menjadi dasar penentuan posisi strategis dalam analisis SWOT
untuk merumuskan strategi peningkatan sistem pemeliharaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemenuhan kondisi fasilitas memperoleh
Indeks Kepatuhan sebesar 77,63% dengan kategori Patuh, yang menunjukkan bahwa
secara umum fasilitas Stasiun Ciamis telah memenuhi sebagian besar indikator standar
teknis perkeretaapian, meskipun masih terdapat beberapa fasilitas yang perlu ditingkatkan,
terutama pada aspek kesetaraan yang memperoleh nilai terendah sebesar 62,50%. Hasil
wawancara menunjukkan bahwa pemeliharaan telah dilaksanakan melalui pemeriksaan,
pembersihan, pemantauan, penanganan awal kerusakan, dan koordinasi dengan unit
pemeliharaan, tetapi masih terdapat keterbatasan sumber daya manusia, ketergantungan
pada Unit Faspen, dokumentasi yang belum optimal, serta kebutuhan peningkatan inspeksi
dan tindak lanjut kerusakan. Faktor strategis internal dan eksternal selanjutnya dianalisis
menggunakan IFAS dan EFAS, dengan skor masing-masing 2,909 dan 2,999. Posisi sistem
pemeliharaan berada pada Kuadran I dengan koordinat (2,145; 2,245) sehingga strategi
yang diterapkan adalah strategi SO. Strategi peningkatan meliputi optimalisasi koordinasi
pemeliharaan, digitalisasi pelaporan dan dokumentasi, inspeksi dan pemeliharaan
preventif, peningkatan fasilitas yang belum memenuhi standar, penguatan koordinasi
pengadaan material, serta monitoring dan evaluasi fasilitas. Berdasarkan hasil tersebut,
dapat disimpulkan bahwa fasilitas Stasiun Ciamis telah memenuhi standar teknis
perkeretaapian dengan kategori Patuh, sistem pemeliharaan memiliki kekuatan dan peluang
yang lebih dominan dari kelemahan dan ancaman, serta strategi SO merupakan pendekatan
yang paling sesuai untuk meningkatkan efektivitas sistem pemeliharaan fasilitas stasiun
secara berkelanjutan.