Abstract:
Pada umunya konstruksi perkerasan yang biasa digunakan di Indonesia yaitu lapis
perkerasan lentur. Lapis perkerasan lentur merupakan perkerasan yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikat yang terdiri dari lapisan-lapisan yang
diletakkan diatas tanah dasar yang telah dipadatkan. Namun, Ruas Jalan Brigjen
Wasita Kusuma Kota Tasikmalaya mengalami kerusakan berupa retak,
pengelupasan, dan kegemukan yang menurunkan kenyamanan serta umur layan
jalan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan perencanaan tebal lapis
tambah (overlay) yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta
membandingkan hasil perencanaan tebal overlay menggunakan metode PDT-05-
2005-B dan AASHTO 1993 pada ruas jalan tersebut. Data yang digunakan
meliputi data primer berupa Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) serta data
sekunder berupa nilai CBR tanah dasar, data lendutan, iklim, dan kondisi
perkerasan eksisting.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua metode.
Metode PDT-05-2005-B menghasilkan kebutuhan tebal overlay sebesar 7,83 cm ,
sedangkan metode AASHTO 1993 menghasilkan tebal overlay sebesar 3.057 cm.
Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan dasar perhitungan: metode PDT-05-
2005-B disusun berdasarkan kondisi lokal Indonesia (iklim, material, lalu lintas,
dan standar teknis nasional), sedangkan AASHTO 1993 menggunakan pendekatan
internasional berbasis angka struktur (SN), faktor drainase, serta tabel ekivalensi
beban gandar.
Dari hasil perbandingan, metode PDT-05-2005-B dianggap lebih optimal
digunakan untuk kondisi lapangan di Indonesia karena hasilnya lebih realistis,
ekonomis, mudah diaplikasikan, dan mampu meminimalisir risiko kerusakan dini
seperti retak reflektif maupun deformasi plastis.