Unigal Repository

Tari Jalungmas: Narasi Ekologis Masyarakat Pesisir Cilacap dalam Gerak, Simbol, dan Karakter

Show simple item record

dc.contributor.author Sudarto, Sudarto
dc.contributor.author Nurholis, Egi
dc.contributor.author Mauludin, Rizky Ady
dc.contributor.author Fahmi, Kamal Ilman
dc.contributor.author Agustina, Deden Dendi
dc.date.accessioned 2026-02-21T18:58:01Z
dc.date.available 2026-02-21T18:58:01Z
dc.date.issued 2023-08-31
dc.identifier.citation Sudarto, S., Nurholis, E., Mauludin, R. A., Fahmi, K. I., & Agustina, D. D. (2023). Tari Jalungmas: Narasi Ekologis Masyarakat Pesisir Cilacap dalam Gerak, Simbol, dan Karakter. LPPM Universitas Galuh. en_US
dc.identifier.uri http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8426
dc.description Seni tari tradisional di Indonesia sebagai salah satu manifestasi budaya universal, senantiasa menjadi cerminan dinamis dari kehidupan masyarakat penciptanya, membentuk jalinan erat dengan lingkungan geografis dan sosial budaya ((Lestari, 2018); (Restian et al., 2022)). Di Indonesia, kekayaan seni ini tidak hanya merefleksikan nilai estetika, tetapi juga menyimpan narasi mendalam tentang pandangan hidup, sistem kepercayaan, dan interaksi manusia dengan lingkungannya ((Sutardi, 2007); (Liliweri, 2019)). Bahkan seni tari seringkali mengandung makna simbolik yang mendalam dan nilai-nilai budaya yang menjadi cerminan identitas budaya masyarakat pemiliknya ((Mattsson & and Lundvall, 2015); (Foley, 2016); (Edensor, 2020)). Seni menciptakan representasi kehidupan yang universal dan abstrak yang dimulai dari tindakan yang sangat situasional dan individual (Tateo, 2014). Tari rakyat sebagai bagian dari warisan budaya dan pelestariannya tampak sangat penting untuk generasi berikutnya yang bermakna dari kehidupan manusia sepanjang masa (Kico et al., 2018). Di wilayah pesisir selatan Jawa, khususnya Kabupaten Cilacap, Tari Jalungmas hadir sebagai sebuah fenomena budaya yang kaya makna. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika semata, melainkan sebagai narasi gerak yang sarat dengan nilai-nilai, kearifan lokal, mencerminkan keceriaan dan dinamika kehidupan masyarakat pesisir, serta adaptasi masyarakat pesisir terhadap lingkungan maritim yang menjadi habitatnya ((Bellerose, 2021); (Jackson, 2022)). Tari ini merupakan sebuah karya seni tari yang lahir dari perpaduan budaya antara tari Jaipong khas Sunda dan musik Lengger Calung dari Banyumas, yang berkembang sejak era 1980-an. Gerakan tari yang gemulai dan iringan gamelan calung Banyumas memberikan nuansa estetika yang khas dan menggambarkan harmoni antara manusia dan alam sekitar (Raditya, 2018). Selain itu, Tari Jalungmas juga mengandung makna religius dan simbolik sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut yang melimpah. Fenomena ini menunjukkan bagaimana seni tradisional dapat menjadi media representasi budaya dan karakter masyarakat pesisir yang unik ((Griswold, 2012); (Mack, 2013)). Keberadaan Tari Jalungmas menyoroti bagaimana tarian lokal mampu merangkum kompleksitas interaksi antara manusia dan alam, sekaligus mewujudkan identitas kolektif yang unik. Dalam konteks ini, tari ekspresionisme menawarkan lensa unik untuk memahami bagaimana emosi, pengalaman subjektif, dan realitas sosial diungkapkan melalui gerak ((Ruprecht, 2019)). Pendekatan ekspresionisme dalam tari memungkinkan kita menelusuri lapisan-lapisan makna yang lebih dalam, melampaui sekadar bentuk dan struktur koreografi, menuju esensi representasi karakter dan identitas kultural ((Ruprecht, 2019); (Andrew, 2020)). Sebagai seni yang merupakan perpaduan unik antara dua tradisi tari besar, Jaipong dari Sunda dan Lengger Calung dari Banyumas, yang mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir khususnya nelayan dengan makna simbolik yang mendalam sebagai representasi harmoni antara manusia dan alam, serta refleksi nilai-nilai sosial dan karakter masyarakat pesisir yang penuh rasa syukur dan keceriaan (Spiller, 2010). Keunikan Tari Jalungmas terletak pada perpaduan estetika gerak dan musik tradisional yang menciptakan pengalaman emosional bagi penonton (Raditya, 2018). Meskipun Tari Jalungmas mengandung kekayaan budaya dan historis yang mendalam, tarian ini menghadapi tantangan serius dalam upaya pelestariannya di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial (Howard, 2016). Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan memahami secara komprehensif bagaimana tarian ini merepresentasikan masyarakat pesisir. Dengan mengkaji narasi ekologis yang terwujud dalam gerak, simbol, dan karakter Tari Jalungmas, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada upaya pelestarian warisan budaya, tetapi juga memperkaya khazanah pengetahuan tentang interelasi antara seni tari, manusia, dan ekosistem pesisir. Melestarikan seni tari memiliki urgensi yang tinggi dalam konteks pelestarian budaya lokal di tengah arus globalisasi yang mengancam keberlangsungan kesenian tradisional ((Clammer, 2014); (Dana & Artini, 2021)). Tari Jalungmas tidak hanya sebagai identitas budaya Cilacap, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai kearifan lokal dan hubungan ekologis antara manusia dengan lingkungan pesisir (Walter, 2009). Ini adalah langkah krusial untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung dalam tarian ini tetap relevan dan dapat diwariskan. Selain itu, tarian ini berpotensi menjadi daya tarik pariwisata budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat (Ranwa, 2021). Namun, kajian mendalam mengenai makna, simbol, dan refleksi karakter masyarakat pesisir dalam perspektif ekologi masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memperkuat pemahaman dan strategi pelestarian yang berbasis budaya dan ekologi. Kajian mendalam yang menghubungkan makna simbolik, nilai-nilai budaya, dan refleksi karakter masyarakat pesisir dalam perspektif ekologi melalui Tari Jalungmas masih sangat minim. Penelitian tentang seni tari di Indonesia telah banyak dilakukan, seperti kajian mengenai representasi budaya dalam tari tradisional Jawa (Smith & Richards, 2013), analisis simbolisme gerak tari (A. L. Jones, 2015), dan hubungan tari dengan lingkungan (Chen, 2020). Lebih lanjut, konsep ekologi budaya (Steward, 1972) telah banyak digunakan untuk memahami adaptasi manusia terhadap lingkungannya, sementara semiotika tari (Kusmayati, 2000) menyediakan kerangka analisis makna dalam gerak tari. Namun, sebagian besar studi cenderung fokus pada aspek estetika, historis, atau sosiologis tari secara umum. Meskipun ada literatur yang membahas interaksi budaya dengan ekologi ((O. Jones & Barker, 2011); (Davies & Lambert, 2015); (Sutton & Anderson, 2020)), masih sedikit yang secara spesifik mengulas bagaimana tarian pesisir secara mendalam merefleksikan karakter dan narasi ekologis masyarakatnya. Konsep-konsep seperti ekologi budaya (Steward, 1972) dan semiotika tari ((Foster, 1981); (Kusmayati, 2000); (Rochelle, 2015)) akan menjadi landasan teoritis utama dalam penelitian ini. Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana tarian ini merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan pesisir dan bagaimana simbol-simbol dalam tarian tersebut mengandung pesan ekologi yang relevan di era modern ((Meyer, 1993); (Highwater, 1996)). Selain itu, pelestarian dan pengembangan seni tradisional ini memerlukan dokumentasi dan analisis yang komprehensif agar tidak hilang oleh arus globalisasi. Penelitian tentang Tari Jalungmas lebih banyak berfokus pada aspek estetika dan historis penciptaannya, seperti perpaduan Jaipong dan Calung Banyumas serta nilai estetis gerak dan musiknya (Arimbi & Indriyanto, 2016). Tari Jalungmas Cilacap mencerminkan budaya masyarakat pesisir, dengan memadukan elemenelemen yang melambangkan laut dan kehidupan laut, yang merupakan identitas utama masyarakat pesisir ((Istiqomah, 2015); (Rahma, 2022)). Namun, kajian yang mengaitkan tarian ini dengan makna simbolik dalam konteks ekologi dan refleksi karakter masyarakat pesisir masih sangat terbatas. Literatur juga menyoroti pentingnya seni pertunjukan sebagai media komunikasi nilai budaya dan sosial dalam masyarakat tradisional ((Dewi, 2012); (Syaifurrahman, 2018); (Thyarani, 2022)). Berbagai literatur mengulas asal-usul dan estetika Tari Jalungmas sebagai perpaduan antara Jaipong dan Calung Banyumas yang diciptakan oleh Tiek Entarti pada tahun 1996. Studi-studi sebelumnya menyoroti aspek seni gerak, musik pengiring, dan fungsi sosial tarian sebagai media ekspresi budaya masyarakat Cilacap. Namun, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada aspek teknis dan sejarah tari, sementara kajian yang mengaitkan tarian ini dengan representasi masyarakat pesisir dan perspektif ekologi masih jarang ditemukan. Beberapa sumber juga menyinggung makna religius dan simbolis dalam tarian ini (Annabilah & Kurniawan, 2022), tetapi belum secara sistematis menghubungkan simbol tersebut dengan karakter dan kondisi lingkungan pesisir. Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada, terdapat kesenjangan signifikan dalam literatur yang secara holistik menganalisis Tari Jalungmas Cilacap dari perspektif ekologi budaya. Penelitian sebelumnya belum secara mendalam mengungkap bagaimana elemen-elemen tari—mulai dari gerak, kostum, musik, hingga narasi yang menyertainya—secara spesifik dan sistematis merepresentasikan adaptasi, perjuangan, kearifan, serta karakteristik masyarakat pesisir dalam konteks lingkungan maritim ((Istiqomah, 2015); (Syaifurrahman, 2018)). Kesenjangan ini menunjukkan perlunya eksplorasi yang lebih mendalam mengenai bagaimana tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah manifestasi kompleks dari hubungan simbiotik antara manusia dan lingkungan laut. Kesenjangan utama dalam kajian Tari Jalungmas terletak pada minimnya penelitian yang mengintegrasikan aspek budaya, simbolik, dan ekologi secara komprehensif. Meskipun tarian ini telah diakui sebagai warisan budaya yang memadukan dua tradisi seni, belum ada studi mendalam yang mengeksplorasi bagaimana tarian ini merefleksikan karakter masyarakat pesisir dan hubungan mereka dengan lingkungan alam secara ekologis. Selain itu, belum ada analisis yang mengkaji secara rinci makna simbolik dalam gerak dan kostum tari yang berkaitan dengan ekologi pesisir. Kekosongan ini membuka peluang untuk penelitian yang dapat mengisi gap tersebut dengan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan seni, budaya, dan ekologi. Kurangnya studi yang mengintegrasikan analisis simbolik dan makna ekologis dalam Tari Jalungmas, sehingga belum tergali secara optimal bagaimana tarian ini berfungsi sebagai cermin karakter dan nilai-nilai masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan lingkungan. Penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan kajian budaya, ekologi, dan seni pertunjukan. Penelitian ini menawarkan kebaharuan yang terletak pada pendekatan ekologi (Steward, 1972) yang digunakan untuk menafsirkan simbol dan makna dalam Tari Jalungmas, yang belum banyak dilakukan sebelumnya. Pendekatan ini memberikan perspektif baru dalam memahami seni pertunjukan tradisional sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam dan sebagai sarana edukasi lingkungan yang mengandung nilai-nilai karakter masyarakat pesisir Cilacap. Selain itu, penelitian ini menawarkan kebaruan substansial dengan menganalisis Tari Jalungmas Cilacap melalui lensa narasi ekologis dalam konteks ekologi budaya, sebuah pendekatan yang masih jarang diterapkan pada kajian tari tradisional di Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penggalian makna dan simbol secara lebih mendalam ((Foster, 1981); (Rochelle, 2015)), tidak hanya sebagai ekspresi kultural semata, tetapi juga sebagai respons adaptif dan representasi otentik terhadap lingkungan (Kusmayati, 2000). Dengan demikian, penelitian ini akan secara spesifik mengidentifikasi dan membedah bagaimana karakter masyarakat pesisir—yang terbentuk oleh interaksi mereka dengan ekosistem laut—terrefleksikan dan dinarasikan melalui elemen-elemen Tari Jalungmas, memberikan wawasan baru tentang hubungan kompleks antara seni, manusia, dan alam. Fokus utama penelitian ini adalah memahami Tari Jalungmas sebagai sebuah narasi ekologis masyarakat pesisir Cilacap yang terwujud dalam gerak, simbol, dan karakter. Secara spesifik, penelitian ini memiliki beberapa tujuan: (1) Mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara rinci elemen-elemen Tari Jalungmas Cilacap, termasuk gerak, kostum, musik, dan properti; (2) Menganalisis makna dan simbol yang terkandung dalam setiap elemen tersebut sebagai representasi ekologis masyarakat pesisir; dan (3) Mengeksplorasi bagaimana Tari Jalungmas merefleksikan karakter, kearifan lokal, serta adaptasi masyarakat pesisir Cilacap terhadap lingkungan maritim, sehingga memberikan pemahaman komprehensif tentang fungsi tarian sebagai cermin kehidupan mereka. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan mengkaji Tari Jalungmas dari perspektif ekologi yang jarang disentuh dalam studi sebelumnya. Pendekatan ini akan mengungkap bagaimana tarian tersebut tidak hanya sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai representasi karakter masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan alam laut. Kajian ini juga akan menelaah makna dan simbol dalam gerak dan elemen tari yang mencerminkan nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan baru tentang peran seni tradisional dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan identitas budaya masyarakat pesisir Cilacap. en_US
dc.description.abstract Penelitian mengkaji Tari Jalungmas sebagai representasi budaya masyarakat pesisir Cilacap, berfokus pada makna, simbol, serta refleksi karakter masyarakat dalam perspektif ekologi. Tari Jalungmas merupakan perpaduan antara tari Jaipong (Sunda) dan musik Calung Banyumas yang menggambarkan kehidupan nelayan dan hubungan harmonis antara manusia dan alam pesisir. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap pelaku seni dan masyarakat setempat. Hasil menunjukkan bahwa gerakan dan simbol dalam tari ini merefleksikan nilai kerja keras, kebersamaan, rasa syukur, serta keselarasan dengan lingkungan pesisir. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian Tari Jalungmas sebagai warisan budaya yang sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologi pesisir. en_US
dc.publisher LPPM Universitas Galuh en_US
dc.relation.ispartofseries PDUG. 104/C3/DT.05.00/PL/2024;
dc.subject Tari Jalungmas en_US
dc.subject Narasi Ekologis en_US
dc.subject Masyarakat Pesisir Cilacap en_US
dc.subject Budaya Lokal en_US
dc.subject warisan budaya en_US
dc.subject konteks budaya lokal en_US
dc.subject kontekstual en_US
dc.subject Gerak en_US
dc.subject Simbol en_US
dc.subject Karakter en_US
dc.subject nilai historis en_US
dc.subject nilai spiritual en_US
dc.subject nilai ekologis en_US
dc.subject nilai luhur en_US
dc.subject nilai-nilai sosial en_US
dc.subject nilai sejarah en_US
dc.subject Literasi Budaya en_US
dc.subject perspektif ekologi en_US
dc.subject tari Jaipong en_US
dc.subject harmonis antara manusia en_US
dc.subject manusia dan alam pesisir en_US
dc.subject pelaku seni en_US
dc.subject keseimbangan ekologi pesisir en_US
dc.subject Calung Banyumas en_US
dc.subject kehidupan pesisir en_US
dc.subject kehidupan nelayan en_US
dc.subject perpaduan en_US
dc.subject sosial budaya en_US
dc.subject cerminan dinamis en_US
dc.subject manifestasi budaya en_US
dc.subject nilai budaya en_US
dc.subject cerminan identitas en_US
dc.subject representasi kehidupan en_US
dc.subject pandangan hidup en_US
dc.subject karya seni tari en_US
dc.subject Lengger Calung en_US
dc.subject nuansa estetika en_US
dc.subject tarian lokal en_US
dc.subject identitas kolektif en_US
dc.subject refleksi nilai en_US
dc.subject identitas budaya Cilacap en_US
dc.subject nilai kearifan lokal en_US
dc.subject ekologi budaya en_US
dc.subject semiotika tari en_US
dc.subject makna religius en_US
dc.title Tari Jalungmas: Narasi Ekologis Masyarakat Pesisir Cilacap dalam Gerak, Simbol, dan Karakter en_US
dc.type Working Paper en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repository


Browse

My Account