Description:
Seni tari tradisional di Indonesia sebagai salah satu manifestasi budaya
universal, senantiasa menjadi cerminan dinamis dari kehidupan masyarakat
penciptanya, membentuk jalinan erat dengan lingkungan geografis dan sosial budaya
((Lestari, 2018); (Restian et al., 2022)). Di Indonesia, kekayaan seni ini tidak hanya
merefleksikan nilai estetika, tetapi juga menyimpan narasi mendalam tentang
pandangan hidup, sistem kepercayaan, dan interaksi manusia dengan lingkungannya
((Sutardi, 2007); (Liliweri, 2019)). Bahkan seni tari seringkali mengandung makna
simbolik yang mendalam dan nilai-nilai budaya yang menjadi cerminan identitas
budaya masyarakat pemiliknya ((Mattsson & and Lundvall, 2015); (Foley, 2016);
(Edensor, 2020)). Seni menciptakan representasi kehidupan yang universal dan
abstrak yang dimulai dari tindakan yang sangat situasional dan individual (Tateo,
2014). Tari rakyat sebagai bagian dari warisan budaya dan pelestariannya tampak
sangat penting untuk generasi berikutnya yang bermakna dari kehidupan manusia
sepanjang masa (Kico et al., 2018).
Di wilayah pesisir selatan Jawa, khususnya Kabupaten Cilacap, Tari
Jalungmas hadir sebagai sebuah fenomena budaya yang kaya makna. Tarian ini tidak
hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika semata, melainkan sebagai narasi gerak
yang sarat dengan nilai-nilai, kearifan lokal, mencerminkan keceriaan dan dinamika
kehidupan masyarakat pesisir, serta adaptasi masyarakat pesisir terhadap lingkungan
maritim yang menjadi habitatnya ((Bellerose, 2021); (Jackson, 2022)). Tari ini
merupakan sebuah karya seni tari yang lahir dari perpaduan budaya antara tari
Jaipong khas Sunda dan musik Lengger Calung dari Banyumas, yang berkembang
sejak era 1980-an. Gerakan tari yang gemulai dan iringan gamelan calung Banyumas
memberikan nuansa estetika yang khas dan menggambarkan harmoni antara manusia dan alam sekitar (Raditya, 2018). Selain itu, Tari Jalungmas juga mengandung makna
religius dan simbolik sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut
yang melimpah. Fenomena ini menunjukkan bagaimana seni tradisional dapat
menjadi media representasi budaya dan karakter masyarakat pesisir yang unik
((Griswold, 2012); (Mack, 2013)). Keberadaan Tari Jalungmas menyoroti bagaimana
tarian lokal mampu merangkum kompleksitas interaksi antara manusia dan alam,
sekaligus mewujudkan identitas kolektif yang unik.
Dalam konteks ini, tari ekspresionisme menawarkan lensa unik untuk
memahami bagaimana emosi, pengalaman subjektif, dan realitas sosial diungkapkan
melalui gerak ((Ruprecht, 2019)). Pendekatan ekspresionisme dalam tari
memungkinkan kita menelusuri lapisan-lapisan makna yang lebih dalam, melampaui
sekadar bentuk dan struktur koreografi, menuju esensi representasi karakter dan
identitas kultural ((Ruprecht, 2019); (Andrew, 2020)). Sebagai seni yang merupakan
perpaduan unik antara dua tradisi tari besar, Jaipong dari Sunda dan Lengger Calung
dari Banyumas, yang mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir khususnya
nelayan dengan makna simbolik yang mendalam sebagai representasi harmoni antara
manusia dan alam, serta refleksi nilai-nilai sosial dan karakter masyarakat pesisir
yang penuh rasa syukur dan keceriaan (Spiller, 2010). Keunikan Tari Jalungmas
terletak pada perpaduan estetika gerak dan musik tradisional yang menciptakan
pengalaman emosional bagi penonton (Raditya, 2018).
Meskipun Tari Jalungmas mengandung kekayaan budaya dan historis yang
mendalam, tarian ini menghadapi tantangan serius dalam upaya pelestariannya di
tengah arus modernisasi dan perubahan sosial (Howard, 2016). Urgensi penelitian ini
terletak pada kebutuhan mendesak untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan
memahami secara komprehensif bagaimana tarian ini merepresentasikan masyarakat
pesisir. Dengan mengkaji narasi ekologis yang terwujud dalam gerak, simbol, dan
karakter Tari Jalungmas, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada upaya
pelestarian warisan budaya, tetapi juga memperkaya khazanah pengetahuan tentang interelasi antara seni tari, manusia, dan ekosistem pesisir. Melestarikan seni tari
memiliki urgensi yang tinggi dalam konteks pelestarian budaya lokal di tengah arus
globalisasi yang mengancam keberlangsungan kesenian tradisional ((Clammer,
2014); (Dana & Artini, 2021)).
Tari Jalungmas tidak hanya sebagai identitas budaya Cilacap, tetapi juga
sebagai sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai kearifan lokal
dan hubungan ekologis antara manusia dengan lingkungan pesisir (Walter, 2009). Ini
adalah langkah krusial untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung dalam tarian ini
tetap relevan dan dapat diwariskan. Selain itu, tarian ini berpotensi menjadi daya tarik
pariwisata budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat
(Ranwa, 2021). Namun, kajian mendalam mengenai makna, simbol, dan refleksi
karakter masyarakat pesisir dalam perspektif ekologi masih sangat terbatas. Oleh
karena itu, penelitian ini penting untuk memperkuat pemahaman dan strategi
pelestarian yang berbasis budaya dan ekologi.
Kajian mendalam yang menghubungkan makna simbolik, nilai-nilai budaya,
dan refleksi karakter masyarakat pesisir dalam perspektif ekologi melalui Tari
Jalungmas masih sangat minim. Penelitian tentang seni tari di Indonesia telah banyak
dilakukan, seperti kajian mengenai representasi budaya dalam tari tradisional Jawa
(Smith & Richards, 2013), analisis simbolisme gerak tari (A. L. Jones, 2015), dan
hubungan tari dengan lingkungan (Chen, 2020). Lebih lanjut, konsep ekologi budaya
(Steward, 1972) telah banyak digunakan untuk memahami adaptasi manusia terhadap
lingkungannya, sementara semiotika tari (Kusmayati, 2000) menyediakan kerangka
analisis makna dalam gerak tari. Namun, sebagian besar studi cenderung fokus pada
aspek estetika, historis, atau sosiologis tari secara umum. Meskipun ada literatur yang
membahas interaksi budaya dengan ekologi ((O. Jones & Barker, 2011); (Davies &
Lambert, 2015); (Sutton & Anderson, 2020)), masih sedikit yang secara spesifik
mengulas bagaimana tarian pesisir secara mendalam merefleksikan karakter dan
narasi ekologis masyarakatnya. Konsep-konsep seperti ekologi budaya (Steward, 1972) dan semiotika tari ((Foster, 1981); (Kusmayati, 2000); (Rochelle, 2015)) akan
menjadi landasan teoritis utama dalam penelitian ini.
Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana tarian ini merefleksikan
hubungan manusia dengan lingkungan pesisir dan bagaimana simbol-simbol dalam
tarian tersebut mengandung pesan ekologi yang relevan di era modern ((Meyer,
1993); (Highwater, 1996)). Selain itu, pelestarian dan pengembangan seni tradisional
ini memerlukan dokumentasi dan analisis yang komprehensif agar tidak hilang oleh
arus globalisasi. Penelitian tentang Tari Jalungmas lebih banyak berfokus pada aspek
estetika dan historis penciptaannya, seperti perpaduan Jaipong dan Calung Banyumas
serta nilai estetis gerak dan musiknya (Arimbi & Indriyanto, 2016). Tari Jalungmas
Cilacap mencerminkan budaya masyarakat pesisir, dengan memadukan elemenelemen
yang melambangkan laut dan kehidupan laut, yang merupakan identitas
utama masyarakat pesisir ((Istiqomah, 2015); (Rahma, 2022)). Namun, kajian yang
mengaitkan tarian ini dengan makna simbolik dalam konteks ekologi dan refleksi
karakter masyarakat pesisir masih sangat terbatas.
Literatur juga menyoroti pentingnya seni pertunjukan sebagai media
komunikasi nilai budaya dan sosial dalam masyarakat tradisional ((Dewi, 2012);
(Syaifurrahman, 2018); (Thyarani, 2022)). Berbagai literatur mengulas asal-usul dan
estetika Tari Jalungmas sebagai perpaduan antara Jaipong dan Calung Banyumas
yang diciptakan oleh Tiek Entarti pada tahun 1996. Studi-studi sebelumnya
menyoroti aspek seni gerak, musik pengiring, dan fungsi sosial tarian sebagai media
ekspresi budaya masyarakat Cilacap. Namun, sebagian besar penelitian lebih
menitikberatkan pada aspek teknis dan sejarah tari, sementara kajian yang
mengaitkan tarian ini dengan representasi masyarakat pesisir dan perspektif ekologi
masih jarang ditemukan. Beberapa sumber juga menyinggung makna religius dan
simbolis dalam tarian ini (Annabilah & Kurniawan, 2022), tetapi belum secara
sistematis menghubungkan simbol tersebut dengan karakter dan kondisi lingkungan
pesisir. Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada, terdapat kesenjangan signifikan dalam
literatur yang secara holistik menganalisis Tari Jalungmas Cilacap dari perspektif
ekologi budaya. Penelitian sebelumnya belum secara mendalam mengungkap
bagaimana elemen-elemen tari—mulai dari gerak, kostum, musik, hingga narasi yang
menyertainya—secara spesifik dan sistematis merepresentasikan adaptasi,
perjuangan, kearifan, serta karakteristik masyarakat pesisir dalam konteks lingkungan
maritim ((Istiqomah, 2015); (Syaifurrahman, 2018)). Kesenjangan ini menunjukkan
perlunya eksplorasi yang lebih mendalam mengenai bagaimana tarian ini bukan
sekadar hiburan, melainkan sebuah manifestasi kompleks dari hubungan simbiotik
antara manusia dan lingkungan laut. Kesenjangan utama dalam kajian Tari Jalungmas
terletak pada minimnya penelitian yang mengintegrasikan aspek budaya, simbolik,
dan ekologi secara komprehensif. Meskipun tarian ini telah diakui sebagai warisan
budaya yang memadukan dua tradisi seni, belum ada studi mendalam yang
mengeksplorasi bagaimana tarian ini merefleksikan karakter masyarakat pesisir dan
hubungan mereka dengan lingkungan alam secara ekologis.
Selain itu, belum ada analisis yang mengkaji secara rinci makna simbolik
dalam gerak dan kostum tari yang berkaitan dengan ekologi pesisir. Kekosongan ini
membuka peluang untuk penelitian yang dapat mengisi gap tersebut dengan
pendekatan interdisipliner yang menghubungkan seni, budaya, dan ekologi.
Kurangnya studi yang mengintegrasikan analisis simbolik dan makna ekologis dalam
Tari Jalungmas, sehingga belum tergali secara optimal bagaimana tarian ini berfungsi
sebagai cermin karakter dan nilai-nilai masyarakat pesisir dalam menghadapi
tantangan lingkungan. Penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan
pendekatan interdisipliner yang menggabungkan kajian budaya, ekologi, dan seni
pertunjukan.
Penelitian ini menawarkan kebaharuan yang terletak pada pendekatan ekologi
(Steward, 1972) yang digunakan untuk menafsirkan simbol dan makna dalam Tari
Jalungmas, yang belum banyak dilakukan sebelumnya. Pendekatan ini memberikan
perspektif baru dalam memahami seni pertunjukan tradisional sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam dan sebagai sarana edukasi lingkungan yang
mengandung nilai-nilai karakter masyarakat pesisir Cilacap. Selain itu, penelitian ini
menawarkan kebaruan substansial dengan menganalisis Tari Jalungmas Cilacap
melalui lensa narasi ekologis dalam konteks ekologi budaya, sebuah pendekatan yang
masih jarang diterapkan pada kajian tari tradisional di Indonesia. Pendekatan ini
memungkinkan penggalian makna dan simbol secara lebih mendalam ((Foster, 1981);
(Rochelle, 2015)), tidak hanya sebagai ekspresi kultural semata, tetapi juga sebagai
respons adaptif dan representasi otentik terhadap lingkungan (Kusmayati, 2000).
Dengan demikian, penelitian ini akan secara spesifik mengidentifikasi dan membedah
bagaimana karakter masyarakat pesisir—yang terbentuk oleh interaksi mereka
dengan ekosistem laut—terrefleksikan dan dinarasikan melalui elemen-elemen Tari
Jalungmas, memberikan wawasan baru tentang hubungan kompleks antara seni,
manusia, dan alam.
Fokus utama penelitian ini adalah memahami Tari Jalungmas sebagai sebuah
narasi ekologis masyarakat pesisir Cilacap yang terwujud dalam gerak, simbol, dan
karakter. Secara spesifik, penelitian ini memiliki beberapa tujuan: (1) Mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara rinci elemen-elemen Tari Jalungmas Cilacap, termasuk gerak, kostum, musik, dan properti; (2) Menganalisis makna dan simbol yang terkandung dalam setiap elemen tersebut sebagai representasi ekologis masyarakat pesisir; dan (3) Mengeksplorasi bagaimana Tari Jalungmas merefleksikan karakter, kearifan lokal, serta adaptasi masyarakat pesisir Cilacap terhadap lingkungan maritim, sehingga memberikan pemahaman komprehensif tentang fungsi tarian sebagai cermin kehidupan mereka. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan mengkaji Tari Jalungmas dari perspektif ekologi yang jarang disentuh dalam studi sebelumnya. Pendekatan ini akan mengungkap bagaimana tarian tersebut tidak hanya sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai representasi karakter masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan alam laut. Kajian ini juga akan menelaah makna dan simbol dalam gerak dan elemen tari yang mencerminkan nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan baru tentang peran seni tradisional dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan identitas budaya masyarakat pesisir Cilacap.