| dc.description |
Banyak penelitian menunjukkan bahwa, secara umum pengalaman anak-anak
dengan alam berpengaruh pada perkembangan fisik, kognitif, dan sosial mereka, yang
pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan mereka ((Scarinci & Fornasari,
2022); (Kūlnieks, 2023)). Hubungan anak-anak dengan alam dipandang sebagai
interaksi dua arah yang kompleks antara manusia dan lingkungan, yang melibatkan
keselarasan antara waktu, individu, kegiatan, dan segala aspek ruang lingkupnya
((Yuniawan et al., 2022); (Pursitasari et al., 2022)). Pengalaman anakanak dengan
alam juga berperan penting dalam pengembangan rasa kemandirian dan otonomi,
serta dalam proses belajar melalui bermain, mengeksplorasi, hidup, dan sekaligus
belajar ((Rosidah et al., 2022)). Interaksi fisik dan visual dengan alam merangsang
indra dan memberikan umpan balik yang membentuk preferensi hubungan dengan
alam, dan bisa merangsang gerakan dan pengalaman sensorik mereka ((Kūlnieks,
2023); (Abdullah, 2023)). Lingkungan alam yang dinamis menyediakan berbagai
peluang untuk mengeksplorasi, menemukan, dan memuaskan rasa ingin tahu, sesuai
dengan pola perilaku dan preferensi mereka dalam memperoleh pengetahuan (GorrizMifsud
et
al.,
2023).
Oleh
karena
itu,
lingkungan
alam
telah
menjadi
lingkungan
yang
penting
bagi
anak-anak
untuk
terlibat
langsung dan
belajar
darinya.
Namun, terdapat masalah tentang interaksi ini. Penelitian tentang interaksi
anak-anak dengan alam sering kali dilakukan di lingkungan perkotaan, terutama
dalam budaya Eropa dan Amerika ((Horvath, 2015); (Häggström & Schmidt, 2020);
(Scarinci & Fornasari, 2022); (Gorriz-Mifsud et al., 2023); (Davis & Elliott, 2023)).
Lingkungan perkotaan mengalami keterbatasan akses ke alam dalam kehidupan
sehari-hari mereka, seperti hutan belantara, alam pegunungan, dan pesisir pantai. Di sisi lain, misalnya, anak-anak yang tinggal di pesisir pantai cenderung memiliki
potensi keterlibatan yang lebih besar dengan situasi karakteristik alam pantai ((Hui et
al., 2023); (Tiwari, 2023)). Lingkungan pesisir pantai menjadi ruang bermain dan
belajar bagi mereka, meskipun saat ini masyarakat sering mengabaikan pentingnya
hubungan ini dalam pertumbuhan anak-anak, terutama dalam konteks literasi ekologi
(Ecological Literacy = Ecoliteracy) ((Horvath, 2015); (Häggström & Schmidt, 2020);
(Davis & Elliott, 2023)). Beberapa fenomena banjir besar di pesisir pantai utara Jawa
(Demak, Pati, Semarang) yang semakin membahayakan terjadi karena (salah satunya)
abainya masyarakat. Masalah ini bisa terjadi di beberapa wilayah Kampung Laut di
Cilacap yang harus diantisipasi sejak dini. Sikap abai masyarakat ini berimbas pada
terbatasnya kesempatan untuk menjadi penjelajah aktif, belajar dengan cara yang
menyenangkan, dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan ecoliteracy
(Johns & Pontes, 2019); (Darder et al., 2023). Padahal, pengalaman mereka dengan
alam pada masa kecil dapat memengaruhi hubungan mereka dengan alam sepanjang
hidup, minat mereka terhadap isu-isu lingkungan, dan akhirnya, membentuk
ecoliteracy. Maka dari itu, kemajuan signifikan dapat dicapai dalam memperkuat
ecoliteracy dengan memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk
berinteraksi dengan alam. Kurangnya pengalaman dengan alam pada masa kanakkanak
dapat
menghambat
minat
untuk
terlibat
dalam
aktivitas
fisik
dan
mengurangi
manfaat
dari
pengalaman
langsung
berinteraksi
dengan
alam
sekitar.
Bermain (dalam konteks penelitian yang terkonsep) menjadi pendekatan
memecahkan masalah dan sekaligus menjadi fondasi dalam memperoleh ecoliteracy
bagi anak-anak. Alam memberikan mereka ruang terbuka yang dianggapnya penting
untuk permainan (Wang, 2023). Keberadaan ruang terbuka dalam suatu lingkungan
memungkinkan anak-anak untuk terlibat dalam aktivitas yang mereka pilih sendiri
serta berinteraksi sosial dengan teman sebaya mereka (Pitman & Daniels, 2020).
Pencapaian ecoliteracy dapat terjadi melalui interaksi yang kompleks antara anakanak
dan keterlibatan praktis mereka dengan alam. Ini memungkinkan mereka untuk melakukan observasi, mengajukan pertanyaan, menafsirkan dunia di sekitar,
membangun hubungan, dan merefleksikan tindakan mereka.
Melalui pengalaman dengan unsur-unsur alam, dapat mengembangkan
kemampuan mengenali warna, tekstur, bentuk, dan skala lingkungan sekitar ((Kellert,
2012); (Kellert, 2018); (Bell, 2019); (Ching, 2023)). Sebagai contoh, ketika mereka
bermain di laut, anak-anak dapat mengidentifikasi makhluk laut yang berbahaya
berdasarkan ciri-ciri bentuk dan warnanya. Hal ini menunjukkan bahwa eksplorasi
dan pemanfaatan aktif lanskap pesisir oleh anak-anak dipicu oleh keragaman elemen
alam sendiri. Oleh karena itu, pengalaman anak-anak dengan alam menjadi aspek
kunci dalam pemahaman keanekaragaman hayati dan ekosistem di lingkungan
mereka, dan pada akhirnya, dalam pengembangan ecoliteracy. Selain itu, bermain
juga memicu respon kognitif, emosional, dan evaluatif terhadap lingkungan (Pitt et
al., 2019), yang membantu mereka membangun hubungan yang bermakna dengan
lingkungan yang mereka hadapi. Interaksi dengan alam bisa memberikan kepuasan
bagi anak-anak karena mereka aktif terlibat dan merespons situasi di sekitar mereka.
Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan anak-anak yang tinggal di
lingkungan yang serupa bisa memperkuat ecoliteracy.
Banyak penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa lanskap alam terbuka
memainkan peran penting dalam meningkatkan ecoliteracy anak-anak, termasuk
lanskap pesisir. Qiu et al., (2023), mengemukakan bahwa ecoliteracy melibatkan
pengetahuan, kepedulian, dan kompetensi praktis. Demikian pula Hess, (2022),
menyatakan bahwa penting bagi anak-anak untuk secara teratur berinteraksi dengan
lingkungan mereka agar dapat memahami tempat mereka dalam siklus ekosistem
yang lebih besar ((Pursitasari et al., 2022); (Saefudin et al., 2023)). Ini menunjukkan
bahwa kesadaran dan apresiasi terhadap alam, serta pengetahuan tentang lingkungan
alam, harus dikembangkan sejak usia dini. Dengan demikian, akan mempromosikan
pemahaman yang lebih baik tentang keanekaragaman hayati dan ekosistemnya pada
saat dewasa nanti.
eberapa penelitian fenomenologi yang menyoroti pentingnya hubungan
interaksi anak-anak dengan alam telah dilakukan ((Salimi et al., 2021); (Juhriati et al.,
2021); (Scarinci & Fornasari, 2022); (Rosidah et al., 2022)). Beberapa penelitian juga
telah dilakukan tentang preferensi alami anak-anak terhadap berbagai lingkungan
luar, seperti kawasan perkotaan, halaman sekolah, dan taman atau pegunungan
((Zuhriyah, 2023); (Kūlnieks, 2023); (Tiwari, 2023); (Sigit et al., 2023)). Meskipun
ada sejumlah besar penelitian yang telah dilakukan dalam bidang ini, hanya sedikit
yang secara langsung menanyakan pendapat anak-anak tentang makna alam bagi
mereka dan yang berfokus pada daerah pesisir. Selain itu, penelitian Sudarto, (2021),
juga menyimpulkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami
makna keterikatan anak-anak terhadap daerah pesisir dan bagaimana pengalaman
membentuk persepsi mereka tentang kebudayaan sekitar pesisir. Oleh karena itu,
peneliti mengambil posisi ini sebagai kebaruan yang di tawarkan, terutama dalam
konteks anak-anak di lanskap budaya pesisir pantai Cilacap. |
en_US |
| dc.description.abstract |
Urgensi penelitian ini terletak pada memberikan pemahaman mendalam tentang
hubungan anak-anak dengan alam, yang memberi wawasan tentang bagaimana
interaksi tersebut memengaruhi persepsi anak-anak tentang Ecological Literacy
(Ecoliteracy). Dengan pemahaman ini, dapat dirancang kebijakan dan program yang
lebih efektif untuk memastikan anak-anak memiliki akses yang memadai ke alam dan
mendapatkan manfaatnya, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya hubungan ini dalam konteks pertumbuhan dan pembelajaran ecoliteracy
anak-anak. Sehingga untuk mencapai itu, penelitian ini mempertegas dengan tujuan
utamanya untuk memahami cara anak-anak dalam mengekplor lanskap pesisir
Cilacap, menganalisis pengetahuan mereka tentang makhluk hidup yang ada di
lanskap pesisir Cilacap, dan mengekplor pemahaman mereka tentang makhluk hidup
dan interaksi ekologis di antara mereka. Metode penelitian menggunakan penelitian
kualitatif dengan pendekatan partisipatif. Lokasi penelitian di Desa Ujungalang,
Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Alasan pemilihannya karena memiliki lanskap
sumber daya alam pesisir yang melimpah, termasuk area pertanian, mangrove,
sungai, dermaga, dan sekolah. Data pengalaman anak-anak dengan alam diperoleh
dari 58 anak usia 6-12 tahun di kelas III dan IV. Penelitian melibatkan metode
menggambar, diskusi, dan berjalan bersama di lingkungan sebenarnya, termasuk area
pertanian, mangrove, sungai, jembatan apung, dan dermaga Motea. Metode ini
memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang
interaksi anak-anak dengan lingkungan alam mereka. Data yang dikumpulkan
dianalisis menggunakan perangkat lunak Nvivo 12 Plus dengan metode analisis isi.
Gambar-gambar anak-anak dipelajari secara rinci untuk mengidentifikasi elemenelemen
yang terdapat di dalamnya. Pengkodean analitik dilakukan dengan
memperhatikan unsur-unsur alam dan komponen lainnya, serta latar belakang dan
aktivitas yang tergambarkan. Ide-ide anak tentang hubungan dengan alam direkam
secara langsung, sementara aktivitas mereka dianalisis untuk memberikan gambaran
lebih lanjut. |
en_US |