Unigal Repository

Menuju Kolaborasi Pedagogi-Ekologi: Memahami Preferensi Anak-anak Terhadap Ecoliteracy Di Lanskap Budaya Pesisir Cilacap

Show simple item record

dc.contributor.author Sudarto, Sudarto
dc.contributor.author Nurholis, Egi
dc.contributor.author Andini, Siti
dc.contributor.author Agustina, Deden Dendi
dc.contributor.author Ramdani, Dadan
dc.date.accessioned 2026-02-21T18:33:20Z
dc.date.available 2026-02-21T18:33:20Z
dc.date.issued 2025-10-31
dc.identifier.citation Sudarto, S., Nurholis, E., Agustina, D. D., & Ramdani, D. (2024). Menuju Kolaborasi Pedagogi-Ekologi: Memahami Preferensi Anak-anak Terhadap Ecoliteracy Di Lanskap Budaya Pesisir Cilacap. LPPM Universitas Galuh. en_US
dc.identifier.uri http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8425
dc.description Banyak penelitian menunjukkan bahwa, secara umum pengalaman anak-anak dengan alam berpengaruh pada perkembangan fisik, kognitif, dan sosial mereka, yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan mereka ((Scarinci & Fornasari, 2022); (Kūlnieks, 2023)). Hubungan anak-anak dengan alam dipandang sebagai interaksi dua arah yang kompleks antara manusia dan lingkungan, yang melibatkan keselarasan antara waktu, individu, kegiatan, dan segala aspek ruang lingkupnya ((Yuniawan et al., 2022); (Pursitasari et al., 2022)). Pengalaman anakanak dengan alam juga berperan penting dalam pengembangan rasa kemandirian dan otonomi, serta dalam proses belajar melalui bermain, mengeksplorasi, hidup, dan sekaligus belajar ((Rosidah et al., 2022)). Interaksi fisik dan visual dengan alam merangsang indra dan memberikan umpan balik yang membentuk preferensi hubungan dengan alam, dan bisa merangsang gerakan dan pengalaman sensorik mereka ((Kūlnieks, 2023); (Abdullah, 2023)). Lingkungan alam yang dinamis menyediakan berbagai peluang untuk mengeksplorasi, menemukan, dan memuaskan rasa ingin tahu, sesuai dengan pola perilaku dan preferensi mereka dalam memperoleh pengetahuan (GorrizMifsud et al., 2023). Oleh karena itu, lingkungan alam telah menjadi lingkungan yang penting bagi anak-anak untuk terlibat langsung dan belajar darinya. Namun, terdapat masalah tentang interaksi ini. Penelitian tentang interaksi anak-anak dengan alam sering kali dilakukan di lingkungan perkotaan, terutama dalam budaya Eropa dan Amerika ((Horvath, 2015); (Häggström & Schmidt, 2020); (Scarinci & Fornasari, 2022); (Gorriz-Mifsud et al., 2023); (Davis & Elliott, 2023)). Lingkungan perkotaan mengalami keterbatasan akses ke alam dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti hutan belantara, alam pegunungan, dan pesisir pantai. Di sisi lain, misalnya, anak-anak yang tinggal di pesisir pantai cenderung memiliki potensi keterlibatan yang lebih besar dengan situasi karakteristik alam pantai ((Hui et al., 2023); (Tiwari, 2023)). Lingkungan pesisir pantai menjadi ruang bermain dan belajar bagi mereka, meskipun saat ini masyarakat sering mengabaikan pentingnya hubungan ini dalam pertumbuhan anak-anak, terutama dalam konteks literasi ekologi (Ecological Literacy = Ecoliteracy) ((Horvath, 2015); (Häggström & Schmidt, 2020); (Davis & Elliott, 2023)). Beberapa fenomena banjir besar di pesisir pantai utara Jawa (Demak, Pati, Semarang) yang semakin membahayakan terjadi karena (salah satunya) abainya masyarakat. Masalah ini bisa terjadi di beberapa wilayah Kampung Laut di Cilacap yang harus diantisipasi sejak dini. Sikap abai masyarakat ini berimbas pada terbatasnya kesempatan untuk menjadi penjelajah aktif, belajar dengan cara yang menyenangkan, dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan ecoliteracy (Johns & Pontes, 2019); (Darder et al., 2023). Padahal, pengalaman mereka dengan alam pada masa kecil dapat memengaruhi hubungan mereka dengan alam sepanjang hidup, minat mereka terhadap isu-isu lingkungan, dan akhirnya, membentuk ecoliteracy. Maka dari itu, kemajuan signifikan dapat dicapai dalam memperkuat ecoliteracy dengan memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan alam. Kurangnya pengalaman dengan alam pada masa kanakkanak dapat menghambat minat untuk terlibat dalam aktivitas fisik dan mengurangi manfaat dari pengalaman langsung berinteraksi dengan alam sekitar. Bermain (dalam konteks penelitian yang terkonsep) menjadi pendekatan memecahkan masalah dan sekaligus menjadi fondasi dalam memperoleh ecoliteracy bagi anak-anak. Alam memberikan mereka ruang terbuka yang dianggapnya penting untuk permainan (Wang, 2023). Keberadaan ruang terbuka dalam suatu lingkungan memungkinkan anak-anak untuk terlibat dalam aktivitas yang mereka pilih sendiri serta berinteraksi sosial dengan teman sebaya mereka (Pitman & Daniels, 2020). Pencapaian ecoliteracy dapat terjadi melalui interaksi yang kompleks antara anakanak dan keterlibatan praktis mereka dengan alam. Ini memungkinkan mereka untuk melakukan observasi, mengajukan pertanyaan, menafsirkan dunia di sekitar, membangun hubungan, dan merefleksikan tindakan mereka. Melalui pengalaman dengan unsur-unsur alam, dapat mengembangkan kemampuan mengenali warna, tekstur, bentuk, dan skala lingkungan sekitar ((Kellert, 2012); (Kellert, 2018); (Bell, 2019); (Ching, 2023)). Sebagai contoh, ketika mereka bermain di laut, anak-anak dapat mengidentifikasi makhluk laut yang berbahaya berdasarkan ciri-ciri bentuk dan warnanya. Hal ini menunjukkan bahwa eksplorasi dan pemanfaatan aktif lanskap pesisir oleh anak-anak dipicu oleh keragaman elemen alam sendiri. Oleh karena itu, pengalaman anak-anak dengan alam menjadi aspek kunci dalam pemahaman keanekaragaman hayati dan ekosistem di lingkungan mereka, dan pada akhirnya, dalam pengembangan ecoliteracy. Selain itu, bermain juga memicu respon kognitif, emosional, dan evaluatif terhadap lingkungan (Pitt et al., 2019), yang membantu mereka membangun hubungan yang bermakna dengan lingkungan yang mereka hadapi. Interaksi dengan alam bisa memberikan kepuasan bagi anak-anak karena mereka aktif terlibat dan merespons situasi di sekitar mereka. Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan anak-anak yang tinggal di lingkungan yang serupa bisa memperkuat ecoliteracy. Banyak penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa lanskap alam terbuka memainkan peran penting dalam meningkatkan ecoliteracy anak-anak, termasuk lanskap pesisir. Qiu et al., (2023), mengemukakan bahwa ecoliteracy melibatkan pengetahuan, kepedulian, dan kompetensi praktis. Demikian pula Hess, (2022), menyatakan bahwa penting bagi anak-anak untuk secara teratur berinteraksi dengan lingkungan mereka agar dapat memahami tempat mereka dalam siklus ekosistem yang lebih besar ((Pursitasari et al., 2022); (Saefudin et al., 2023)). Ini menunjukkan bahwa kesadaran dan apresiasi terhadap alam, serta pengetahuan tentang lingkungan alam, harus dikembangkan sejak usia dini. Dengan demikian, akan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang keanekaragaman hayati dan ekosistemnya pada saat dewasa nanti. eberapa penelitian fenomenologi yang menyoroti pentingnya hubungan interaksi anak-anak dengan alam telah dilakukan ((Salimi et al., 2021); (Juhriati et al., 2021); (Scarinci & Fornasari, 2022); (Rosidah et al., 2022)). Beberapa penelitian juga telah dilakukan tentang preferensi alami anak-anak terhadap berbagai lingkungan luar, seperti kawasan perkotaan, halaman sekolah, dan taman atau pegunungan ((Zuhriyah, 2023); (Kūlnieks, 2023); (Tiwari, 2023); (Sigit et al., 2023)). Meskipun ada sejumlah besar penelitian yang telah dilakukan dalam bidang ini, hanya sedikit yang secara langsung menanyakan pendapat anak-anak tentang makna alam bagi mereka dan yang berfokus pada daerah pesisir. Selain itu, penelitian Sudarto, (2021), juga menyimpulkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami makna keterikatan anak-anak terhadap daerah pesisir dan bagaimana pengalaman membentuk persepsi mereka tentang kebudayaan sekitar pesisir. Oleh karena itu, peneliti mengambil posisi ini sebagai kebaruan yang di tawarkan, terutama dalam konteks anak-anak di lanskap budaya pesisir pantai Cilacap. en_US
dc.description.abstract Urgensi penelitian ini terletak pada memberikan pemahaman mendalam tentang hubungan anak-anak dengan alam, yang memberi wawasan tentang bagaimana interaksi tersebut memengaruhi persepsi anak-anak tentang Ecological Literacy (Ecoliteracy). Dengan pemahaman ini, dapat dirancang kebijakan dan program yang lebih efektif untuk memastikan anak-anak memiliki akses yang memadai ke alam dan mendapatkan manfaatnya, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hubungan ini dalam konteks pertumbuhan dan pembelajaran ecoliteracy anak-anak. Sehingga untuk mencapai itu, penelitian ini mempertegas dengan tujuan utamanya untuk memahami cara anak-anak dalam mengekplor lanskap pesisir Cilacap, menganalisis pengetahuan mereka tentang makhluk hidup yang ada di lanskap pesisir Cilacap, dan mengekplor pemahaman mereka tentang makhluk hidup dan interaksi ekologis di antara mereka. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan partisipatif. Lokasi penelitian di Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Alasan pemilihannya karena memiliki lanskap sumber daya alam pesisir yang melimpah, termasuk area pertanian, mangrove, sungai, dermaga, dan sekolah. Data pengalaman anak-anak dengan alam diperoleh dari 58 anak usia 6-12 tahun di kelas III dan IV. Penelitian melibatkan metode menggambar, diskusi, dan berjalan bersama di lingkungan sebenarnya, termasuk area pertanian, mangrove, sungai, jembatan apung, dan dermaga Motea. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang interaksi anak-anak dengan lingkungan alam mereka. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan perangkat lunak Nvivo 12 Plus dengan metode analisis isi. Gambar-gambar anak-anak dipelajari secara rinci untuk mengidentifikasi elemenelemen yang terdapat di dalamnya. Pengkodean analitik dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur alam dan komponen lainnya, serta latar belakang dan aktivitas yang tergambarkan. Ide-ide anak tentang hubungan dengan alam direkam secara langsung, sementara aktivitas mereka dianalisis untuk memberikan gambaran lebih lanjut. en_US
dc.publisher LPPM Universitas Galuh en_US
dc.relation.ispartofseries PDUG. 089/C3/DT.05.00/PL/2024;
dc.subject Pedagogi-Ekologi en_US
dc.subject Memahami Preferensi Anak en_US
dc.subject Ecoliteracy en_US
dc.subject Lanskap Budaya Pesisir en_US
dc.subject Budaya Pesisir Cilacap en_US
dc.subject pemahaman mendalam en_US
dc.subject kesadaran masyarakat en_US
dc.subject interaksi ekologis en_US
dc.subject lingkungan alam en_US
dc.subject bentang alam en_US
dc.subject bentang budaya en_US
dc.subject Literasi Budaya en_US
dc.subject Budaya Lokal en_US
dc.subject warisan budaya en_US
dc.subject Kesadaran Ecoliteracy en_US
dc.subject pengalaman sensorik en_US
dc.subject merangsang gerakan en_US
dc.subject keselarasan antara waktu en_US
dc.subject penjelajah aktif en_US
dc.subject isu lingkungan en_US
dc.subject konteks budaya lokal en_US
dc.subject Konservasi Lingkungan en_US
dc.subject kontekstual en_US
dc.subject apresiasi terhadap alam en_US
dc.subject pantai Cilacap en_US
dc.subject Social Constructivism en_US
dc.subject Ecology of Development en_US
dc.subject pedagogi dan ekologi en_US
dc.subject Experiential Learning en_US
dc.subject ekosistem laut en_US
dc.subject prinsip ekologi en_US
dc.subject Nature Relatedness en_US
dc.subject pembangunan berkelanjutan en_US
dc.subject nilai etika lingkungan en_US
dc.subject keterampilan berpikir sistem en_US
dc.subject kesadaran sistemik en_US
dc.subject sikap pro-lingkungan en_US
dc.subject perilaku konservasi en_US
dc.subject konteks geografis en_US
dc.subject pelestarian budaya en_US
dc.subject komunikasi antargenerasi en_US
dc.subject pendekatan fenomenologi en_US
dc.title Menuju Kolaborasi Pedagogi-Ekologi: Memahami Preferensi Anak-anak Terhadap Ecoliteracy Di Lanskap Budaya Pesisir Cilacap en_US
dc.type Working Paper en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repository


Browse

My Account