| dc.contributor.author | Sudarto, Sudarto | |
| dc.contributor.author | Saefudin, Arif | |
| dc.contributor.author | Andini, Siti | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-20T18:50:08Z | |
| dc.date.available | 2026-02-20T18:50:08Z | |
| dc.date.issued | 2026-02 | |
| dc.identifier.citation | Sudarto, S., Saefudin, A., & Andini, S. (2026). Belajar Sejarah dari Pesisir: Sedekah Laut dan Pendidikan Kesadaran Lingkungan. Bandung: Sahabat Solusi Indonesia. | en_US |
| dc.identifier.issn | 978-634-96717-2-9 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8424 | |
| dc.description | Kehidupan manusia modern ditandai oleh kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan percepatan pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, di balik capaian tersebut, dunia saat ini menghadapi krisis ekologis yang semakin kompleks dan mengkhawatirkan. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, pencemaran udara dan air, kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan merupakan gejala nyata dari krisis tersebut. Krisis ekologis bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dialami oleh umat manusia di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan lingkungan menegaskan bahwa aktivitas manusia modern telah menjadi kekuatan utama yang mengubah sistem bumi secara signifikan. Konsep Anthropocene digunakan untuk menggambarkan era di mana manusia berperan sebagai faktor dominan yang memengaruhi kondisi geologis, biologis, dan ekologis planet ini (Crutzen, 2002). Dalam konteks ini, alam tidak lagi diposisikan sebagai ruang hidup yang harus dijaga, melainkan sebagai objek eksploitasi demi memenuhi kebutuhan produksi dan konsumsi manusia. Salah satu akar utama krisis ekologis terletak pada cara pandang manusia modern terhadap alam. Alam kerap dipahami sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Pandangan antroposentris—yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam—telah mendorong praktik pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem (Merchant, 1980). Akibatnya, relasi manusia dan alam menjadi timpang, di mana kepentingan jangka pendek sering kali mengalahkan keberlanjutan jangka panjang. Dalam kehidupan modern, relasi manusia dengan alam semakin bersifat tidak langsung. Banyak individu hidup jauh dari sumber-sumber alam yang menopang kehidupannya. Air bersih, pangan, dan energi hadir sebagai komoditas siap pakai, tanpa kesadaran akan proses ekologis panjang yang menyertainya. Kondisi ini menyebabkan terputusnya hubungan emosional dan kultural manusia dengan lingkungan, sehingga kerusakan alam kerap dipersepsi sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Krisis ekologis tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Bencana alam seperti banjir, kekeringan, abrasi pantai, dan naiknya permukaan air laut semakin sering terjadi dan secara langsung memengaruhi kelompok masyarakat rentan, khususnya masyarakat pesisir dan pedesaan. Ketimpangan ekologis ini sering kali berkelindan dengan ketimpangan sosial, di mana kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan justru menjadi pihak yang paling terdampak. Selain itu, krisis ekologis juga mengancam keberlanjutan budaya lokal. Banyak tradisi, pengetahuan lokal, dan praktik hidup yang lahir dari interaksi panjang manusia dengan alam tergerus oleh modernisasi dan perubahan lingkungan. Hilangnya ekosistem berarti hilangnya ruang hidup sekaligus ruang budaya. Dengan demikian, krisis ekologis sesungguhnya adalah krisis peradaban, karena menyentuh aspek paling mendasar dari keberlangsungan hidup manusia. Ironisnya, sistem pendidikan modern sering kali belum mampu merespons krisis ekologis secara memadai. Pendidikan masih cenderung menekankan aspek kognitif dan pencapaian akademik, sementara dimensi ekologis dan kesadaran lingkungan kurang mendapatkan perhatian yang proporsional. Alam sering hadir dalam buku pelajaran sebagai objek pengetahuan, bukan sebagai ruang hidup yang memiliki nilai moral, historis, dan kultural. Akibatnya, banyak generasi muda tumbuh dengan pengetahuan lingkungan yang bersifat konseptual, tetapi minim pengalaman langsung dan refleksi mendalam. Mereka mengetahui istilah perubahan iklim, pencemaran, atau kerusakan hutan, namun tidak selalu memiliki keterikatan emosional dan tanggung jawab etis terhadap lingkungan. Kondisi inilah yang memperlemah upaya kolektif dalam merespons krisis ekologis secara berkelanjutan. Menghadapi krisis ekologis yang semakin kompleks, diperlukan perubahan cara berpikir dan cara belajar. Kesadaran ekologis tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan teknokratis atau regulatif, tetapi juga melalui pemahaman historis dan kultural tentang hubungan manusia dan alam. Sejarah, dalam hal ini, memiliki peran penting untuk mengungkap bagaimana manusia di masa lalu membangun relasi dengan lingkungan, termasuk nilai-nilai kearifan lokal yang menjaga keseimbangan ekologis. Dengan membaca krisis ekologis sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia, pembelajaran tidak hanya berhenti pada diagnosis masalah, tetapi juga membuka ruang refleksi dan pembelajaran dari pengalaman kolektif. Dari sinilah pentingnya menghadirkan tradisi, budaya lokal, dan pengalaman hidup masyarakat—seperti masyarakat pesisir—sebagai sumber pembelajaran yang bermakna. Krisis ekologis bukan semata tanda kehancuran, tetapi juga panggilan untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam secara lebih adil, bijaksana, dan berkelanjutan. | en_US |
| dc.description.abstract | Krisis ekologis yang terjadi saat ini—mulai dari perubahan iklim, kerusakan ekosistem, hingga bencana lingkungan—menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan semata persoalan teknis atau ilmiah. Ia merupakan persoalan cara pandang, nilai, dan kesadaran manusia yang terbentuk melalui proses pendidikan dan kebudayaan. Oleh karena itu, upaya merespons krisis ekologis tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan, termasuk pendidikan sejarah yang selama ini sering dianggap jauh dari persoalan lingkungan. Buku Belajar Sejarah dari Pesisir: Sedekah Laut dan Pendidikan Kesadaran Lingkungan berangkat dari keyakinan bahwa sejarah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ekologis manusia. Sejarah tidak hanya berbicara tentang peristiwa politik, tokoh besar, atau perubahan kekuasaan, tetapi juga tentang relasi manusia dengan alam dalam lintasan waktu. Melalui perspektif sejarah lingkungan, buku ini mengajak pembaca membaca masa lalu dengan cara yang berbeda: melihat lingkungan sebagai bagian aktif dalam perjalanan sejarah manusia. Pilihan untuk menjadikan tradisi Sedekah Laut di wilayah pesisir Cilacap sebagai fokus pembahasan bukanlah tanpa alasan. Tradisi ini merepresentasikan hubungan manusia, budaya, dan alam yang masih hidup dan dijalankan secara kolektif oleh masyarakat pesisir. Sedekah Laut bukan sekadar ritual budaya atau peristiwa seremonial, melainkan praktik sosial yang menyimpan nilai spiritual, solidaritas sosial, serta kesadaran ekologis yang tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat dalam berhadapan dengan laut. Dalam tradisi tersebut, laut tidak diperlakukan sebagai objek eksploitasi semata, tetapi sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya. Nilai rasa syukur, kehati-hatian, dan pengakuan atas keterbatasan manusia terhadap alam menjadi bagian penting dari praktik budaya ini. Nilai-nilai tersebut, meskipun lahir dari tradisi lokal, memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan ekologis global saat ini. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai laporan penelitian atau kajian etnografi yang kaku. Sebaliknya, buku ini ditulis sebagai refleksi akademik yang berupaya menjembatani teori dengan pengalaman, konsep dengan realitas, serta pendidikan dengan kehidupan. Pengalaman mahasiswa yang terlibat langsung dalam pembelajaran di pesisir menjadi bagian penting dalam narasi buku ini. Melalui pengalaman mengamati, berdialog, dan mengalami langsung kehidupan masyarakat pesisir, mahasiswa diajak belajar tidak hanya tentang laut, tetapi belajar dari laut. Proses pembelajaran di luar ruang kelas yang diceritakan dalam buku ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang transformasi cara pandang. Mahasiswa yang semula melihat lingkungan sebagai objek kajian mulai memahami lingkungan sebagai relasi hidup yang kompleks dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya, dan sejarah. Dari sinilah kesadaran ekologis tumbuh, bukan sebagai pengetahuan yang dipaksakan, tetapi sebagai pemahaman yang lahir dari pengalaman dan refleksi. Buku ini juga berupaya menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan bermakna dalam pendidikan tinggi. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang statis atau romantis, melainkan sebagai praktik hidup yang terus beradaptasi dan menyimpan pengetahuan ekologis. Dengan membaca tradisi secara kritis dan reflektif, pendidikan dapat menemukan alternatif pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan membumi. Dalam konteks pendidikan sejarah, buku ini mengusulkan pendekatan yang lebih terbuka dan interdisipliner. Sejarah lingkungan, ekoliterasi, dan pembelajaran berbasis pengalaman ditawarkan sebagai jalan untuk menghidupkan kembali relevansi sejarah dalam kehidupan masa kini. Sejarah tidak lagi dipahami sebagai masa lalu yang terpisah, tetapi sebagai proses yang membentuk cara manusia memandang alam, budaya, dan masa depan. Penulis menyadari bahwa buku ini masih memiliki keterbatasan, baik dari segi cakupan maupun kedalaman pembahasan. Buku ini tidak bermaksud memberikan jawaban final atas persoalan lingkungan dan pendidikan, melainkan membuka ruang dialog dan refleksi. Kritik dan masukan dari pembaca sangat diharapkan sebagai bagian dari proses belajar bersama. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan dukungan dalam proses penulisan buku ini. Pengalaman berdialog dengan masyarakat pesisir, mahasiswa, dan rekan-rekan akademisi menjadi sumber inspirasi yang berharga. Tanpa ruang dialog dan pengalaman bersama, buku ini tidak akan lahir dalam bentuknya yang sekarang Akhir kata, penulis berharap buku ini dapat memberikan kontribusi, sekecil apa pun, bagi pengembangan pendidikan sejarah, pendidikan lingkungan, dan penguatan peran budaya lokal dalam merawat masa depan yang berkelanjutan. Semoga buku ini dapat menjadi bahan bacaan yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenung, merefleksikan, dan menata kembali relasi manusia dengan alam. Belajar hidup selaras dengan alam adalah proses panjang yang tidak pernah selesai. Melalui sejarah, tradisi, dan pendidikan, semoga kita dapat terus belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam merawat kehidupan bersama—hari ini dan di masa yang akan datang. | en_US |
| dc.publisher | PT Sahabat Solusi Indonesia | en_US |
| dc.subject | Belajar Sejarah | en_US |
| dc.subject | Belajar Sejarah lokal | en_US |
| dc.subject | Belajar Sejarah Pesisir | en_US |
| dc.subject | Sedekah Laut | en_US |
| dc.subject | Pendidikan Kesadaran Lingkungan | en_US |
| dc.subject | kesadaran ekologis | en_US |
| dc.subject | kesadaran manusia | en_US |
| dc.subject | pendidikan sejarah | en_US |
| dc.subject | pendidikan karakter | en_US |
| dc.subject | cara berpikir | en_US |
| dc.subject | cara pandang | en_US |
| dc.subject | konteks budaya lokal | en_US |
| dc.subject | Konservasi Lingkungan | en_US |
| dc.subject | konservasi budaya | en_US |
| dc.subject | Literasi Budaya | en_US |
| dc.subject | Kearifan Lokal | en_US |
| dc.subject | Kearifan Lokal Pesisir | en_US |
| dc.subject | masyarakat pesisir | en_US |
| dc.subject | kajian etnografi | en_US |
| dc.subject | Sejarah Lingkungan | en_US |
| dc.subject | membaca masa lalu | en_US |
| dc.subject | kontekstual | en_US |
| dc.subject | Ekoliterasi | en_US |
| dc.subject | Ekoliterasi Mahasiswa | en_US |
| dc.subject | ekologis dan historis | en_US |
| dc.subject | Belajar Membaca Alam | en_US |
| dc.subject | Lanskap Budaya Pesisir | en_US |
| dc.subject | Pesisir Cilacap | en_US |
| dc.subject | warisan budaya | en_US |
| dc.subject | Menumbuhkan Kesadaran Ekologis | en_US |
| dc.subject | etika alam | en_US |
| dc.subject | Sejarah yang Membumi | en_US |
| dc.subject | Merawat Masa Depan | en_US |
| dc.title | Belajar Sejarah dari Pesisir: Sedekah Laut dan Pendidikan Kesadaran Lingkungan | en_US |
| dc.type | Book | en_US |