| dc.identifier.citation |
Nurdin, A., Sidiq, M., Aziz, S., Garvera, R R., Arifin, F. S., Rustandi, A., Dadi, D., Iskhak, I., Supriatna, G. S., Alia, S., Fariz, B. N., Budiawan, A., Ramdani, D., Agustina, D. D., Sudarto, S., Gunawan, D. D., Sudarsono, D. O., Suryana, A., Hidayat, A. S., Nuryani, L. K., Sumiati, S., Noviawati, E., Herlina, N., Nugraha, F., Putri, K. M., Taopik, T., Purnama, N. A., Nursetiawan, I., Sujai, I., Nur'aeni, D. D., Marliani, L., Henriyani, E., Putra, R. A. K., Andini, H., Mauladi, M. A. R., Puspitasari, A., Gunawan, I., Khoerunnisa, S., Rahman, M. Z., Firmansyah, I., Hertini, R., Muflihah, M., Ningrum, W. M., Purnamasari, K. D., Heryanti, S. W., Suminar, R., Kurniasih, I., Nur’arifah, Y., Sujai, I., Suryana, A., Wahyunita, R., Rinaldi, F. B., Ratnasari, R., Maharani, D. P., Darna, N., Putri, R. A., Wijayanti, Y., & Wahyunita, R. (2025). Konservasi Lingkungan dan Budaya. BOOK CHAPTER. © Penerbit Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia (PRCI). |
en_US |
| dc.description |
Penelitian ini mengeksplorasi peran Paguyuban Puseur Galuh, sebuah organisasi pemuda, dalam membina identitas budaya lokal di tengah tekanan globalisasi di Ciamis, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dengan pimpinan paguyuban, tokoh masyarakat termasuk anggota paguyuban, observasi partisipan dilakukan untuk menilai bagaimana keterlibatan pemuda dalam kegiatan budaya berkontribusi pada pelestarian dan revitalisasi tradisi lokal. Dokumentasi juga dilakukan untuk menyediakan bukti pendukung yang membantu proses peninjauan ulang maupun memvisualisasikan perspektif subjek penelitian. Data dianalisis secara tematis untuk mengidentifikasi pola dan wawasan utama terkait keterlibatan pemuda dalam restorasi budaya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam praktik budaya tidak hanya memperkuat ikatan komunitas tetapi juga memberdayakan pemuda untuk menegaskan identitas budaya mereka terhadap pengaruh global. Hasil penelitian menggarisbawahi pentingnya organisasi pemuda dalam keberlanjutan budaya dan menyoroti jalur potensial untuk meningkatkan identitas lokal melalui inisiatif yang digerakkan oleh komunitas.
Globalisasi menghadirkan peluang dan tantangan bagi budaya lokal, khususnya di wilayah yang kaya akan tradisi dan budaya seperti Indonesia. Globalisasi memfasilitasi perpaduan budaya lokal dan global, yang menghasilkan identitas hibrida. Kaum muda sering kali memasukkan unsur-unsur budaya global ke dalam praktik lokal mereka, yang memperkaya ekspresi budaya mereka sekaligus menciptakan identitas unik yang mencerminkan kedua pengaruh tersebut (Erastus & Hurst-Harosh, 2020). Konsumsi media global, khususnya melalui platform digital, membentuk persepsi kaum muda tentang identitas budaya mereka sendiri. Identitas ini merupakan komponen penting dari identitas sosial secara umum, yang ditempa pada titik temu antara faktor pribadi dan publik. Konten media lokal dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya transformasi budaya dan informasi (Petrov et al., 2025).
Globalisasi dapat memberdayakan kaum muda dengan memberi mereka akses ke berbagai sumber daya dan jaringan budaya. Akses ini memungkinkan mereka untuk menegaskan identitas mereka dengan cara-cara baru, sering kali menggunakan simbol-simbol global untuk meningkatkan praktik-praktik budaya lokal mereka ((Erastus & Hurst-Harosh, 2020); (Ritter & Schönberger, 2017)). Secara luas diakui bahwa keterlibatan kaum muda dalam pelestarian dan promosi warisan budaya dianggap sebagai hal yang sangat penting dalam meningkatkan kesadaran akan warisan budaya (Menkshi et al., 2021). Oleh karena itu, proses pelestarian tradisi sosial-budaya di daerah pedesaan dalam praktik-praktik sosial generasi muda harus mendapat perhatian yang lebih besar. Pentingnya reproduksi sosial budaya tradisional dalam tindakan generasi muda relevan dengan pelestarian identitas komunitas lokal dan regional. Proses ini berfungsi sebagai penyeimbang terhadap erosi rasa memiliki sosial dan nasional, sehingga memfasilitasi pemeliharaan identitas budaya yang berbeda (Rodionova et al., 2020).
Meski globalisasi menawarkan jalan bagi pengayaan budaya dan pemberdayaan pemuda, globalisasi juga menimbulkan risiko pengenceran identitas dan erosi budaya. Seiring dengan pengaruh global yang merasuki kehidupan sehari-hari, muncul kekhawatiran tentang terkikisnya identitas budaya lokal. Globalisasi dapat mengancam budaya lokal dengan mendorong homogenisasi. Ketika merek dan tren global mendominasi, praktik tradisional dapat dikesampingkan, yang menyebabkan hilangnya warisan budaya di kalangan pemuda yang mungkin lebih mengutamakan identitas global daripada identitas lokal (Erastus & Hurst-Harosh, 2020). Untuk itu, peran pemuda dalam melestarikan budaya lokal menjadi sangat penting dalam meningkatkan ketahanan budaya, meningkatkan kesejahteraan pemuda, dan melakukan inovasi terhadap daya tarik budaya lokal, akses, fasilitas, dukungan, keamanan, dan kenyamanan (Lubis et al., 2021). Keseimbangan antara merangkul pengaruh global dan melestarikan tradisi lokal sangat penting untuk mempertahankan identitas budaya yang kuat di kalangan pemuda setempat. Penelitian ini berfokus pada Paguyuban Puseur Galuh - Ciamis, sebuah organisasi pemuda yang didedikasikan untuk mempromosikan budaya dan warisan lokal. Dengan mengeksplorasi inovasi sosial pemuda di daerah, bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya lokal, mewariskan warisan budaya lintas generasi, dan mengatasi isolasi sosial yang dapat memfasilitasi pertukaran pengetahuan, memperkaya aspek sosial dan budaya (García-Mieres et al., 2024).
Meskipun literatur yang ada telah mengeksplorasi berbagai aspek identitas budaya dan keterlibatan pemuda, masih terdapat kesenjangan yang signifikan mengenai dampak khusus kelompok pemuda yang terorganisasi terhadap pemulihan budaya lokal dalam konteks globalisasi. Seperti yang dikemukakan (Jenkins et al., 2015), budaya partisipatoris di Era digital siap untuk menarik minat dan melibatkan kaum muda dan intelektual dalam sebuah dialog tentang pengaruh media pada masyarakat kontemporer. Selain itu, hal ini akan mendorong keterlibatan dalam wacana yang lebih luas, yang berpusat pada praktik-praktik partisipatoris kaum muda di era digital. Upaya penjagaan dan pemertahanan budaya merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat yang ada di dalamnya, peran masyarakat sangat penting dalam melestarikan budaya, termasuk generasi muda penerus bangsa ((Ibrahim, 2019); (Ciptadi & Mulyaningsih, 2022)). Hal ini ditunjukan dari hasil penelitian (Ayuni et al., 2022), generasi muda secara aktif berperan dalam pewarisan budaya, pemilik, pelaku, berinovasi dan edukatif, serta berhasil dalam menjaga dan melestarikan budaya (Ikrar, 2019). Namun perlu ditingkatkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat (Bintari & Darmawan, 2016). Perlunya pengembangan pendidikan budaya, kerjasama antara generasi dan pemerintah untuk merancang strategi pelestarian, peningkatan kesadaran tentang pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian integral identitas kolektif (Mawarni et al., 2024). Kurangnya pemahaman estetika budaya dan masifnya budaya asing menyebabkan ketidak sesuaian dengan budaya daerah (Mantri, 2014).
Penelitian sebelumnya sering kali berfokus pada pengalaman individu atau tren masyarakat yang lebih luas dan sering kali gagal menjawab pertanyaan tentang ketidaksetaraan, segmentasi, dan pemisahan spasial di antara berbagai kelompok perilaku masyarakat (Hollands, 2002), tanpa menyelidiki secara mendalam gerakan akar rumput yang dipimpin oleh organisasi pemuda. Hal ini penting dilakukan karena saat ini masih banyak pemuda yang mengabaikan dan bahkan kurang berminatnya mereka dalam pelestarian budaya (Luthfianda & Sufriadi, 2024). Penelitian ini berupaya untuk mengisi kesenjangan ini dengan memberikan bukti empiris tentang bagaimana Paguyuban Puseur Galuh memfasilitasi keterlibatan budaya di kalangan pemuda dan implikasinya terhadap identitas komunitas. Penelitian ini menyelidiki bagaimana keterlibatan pemuda dalam organisasi ini membantu pemulihan dan penguatan identitas budaya, serta menumbuhkan ketahanan terhadap tren global yang semakin homogen. Dengan meneliti hubungan antara keterlibatan pemuda dan pelestarian budaya, penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada wacana tentang identitas budaya di dunia yang mengglobal. |
en_US |