Abstract:
Buku ini hadir bukan hanya untuk kalangan akademisi, tetapi juga untuk masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, guru, hingga pemerhati budaya. Harapannya, setiap pembaca dapat memperoleh pengetahuan baru, memperkuat rasa cinta tanah air, sekaligus termotivasi untuk ikut melestarikan budaya lokal di lingkungannya masing-masing.
Description:
Dalam arus globalisasi yang begitu deras, budaya lokal seringkali terpinggirkan. Padahal, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter bangsa. Melalui buku ini, penulis berusaha menggali dan menyajikan berbagai tradisi, ajaran, serta praktik budaya yang bukan hanya bernilai historis, tetapi juga relevan dengan kehidupan generasi masa kini.
Literasi budaya yang diangkat dalam buku ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa budaya tidak sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang hidup dan terus berkembang. Dengan memahami kearifan lokal, pembaca dapat menemukan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan perdamaian yang sangat dibutuhkan di era modern.
Keterlibatan pemuda sangat krusial dalam pemulihan dan pelestarian identitas budaya lokal di era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus digitalisasi dan pengaruh budaya luar. Pemuda memiliki potensi besar seperti kreativitas, inovasi, dan akses teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk melestarikan budaya tradisional, termasuk budaya Sunda ((Mantri, 2014); (Vitry & Syamsir, 2024)). Di era globalisasi dan digitalisasi, budaya lokal sering terancam oleh dominasi budaya global yang lebih menarik bagi generasi muda, sehingga nilai-nilai budaya lokal cenderung terkikis. Namun, pemuda dapat menjadi agen perubahan dengan mengadopsi peran sebagai pewaris, pelaku, inovator, dan edukator budaya tradisional, sehingga budaya lokal tetap hidup dan relevan tanpa kehilangan orisinalitasnya ((Mantri, 2014); (Sanjaya, 2022)). Begitupula halnya dengan Paguyuban Puseur Galuh, Para pemuda diajak untuk belajar dan berlatih seni tradisional, seperti alat musik, tarian, dan bahasa daerah, agar budaya tersebut tidak hanya menjadi warisan pasif tetapi aktif dipraktikkan.
Seni tari dan musik juga memiliki peran essensial dalam menginternalisasikan nilai-nilai budaya. Seperti dijelaskan bahwa mengubah bentuk seni tradisional menjadi ekspresi modern. Misalnya, memadukan musik tradisional dengan genre kontemporer atau menggabungkan tarian tradisional ke dalam gaya pertunjukan populer dapat menciptakan perpaduan yang disukai penonton muda. Seni tari dan musik memfasilitasi mereka untuk mengekspresikan dirinya, menunjukan identitasnya dan sebagai sarana untuk meluapkan emosi-emosinya, sehingga dapat digunakan sebagai terapi relaksasi. Gerakan tari mengajarkan pengendalian diri dan fokus, atau untuk merasakan, meningkatkan energi, menciptakan atmasfor mendalam baik pelaku maupun audien. Melalui seni tari, mereka dapat mengalami internalisasi pengalaman estetis yang menumbuhkan kepekaan rasa, kesadaran budaya, serta sikap saling menghormati. Tari tradisional Sunda mengandung pesan filosofis yang mencakup aspek spiritual, moral, dan sosial, sehingga mampu memperkuat identitas diri dan kebanggaan terhadap budaya sendiri sekaligus meningkatkan pemahaman dan toleransi terhadap keberagaman budaya di Indonesia (Fitriani, 2020).