| dc.description |
Globalisasi menghadirkan peluang dan tantangan bagi budaya lokal, khususnya di wilayah yang kaya akan tradisi dan budaya seperti Indonesia. Globalisasi memfasilitasi perpaduan budaya lokal dan global, yang menghasilkan identitas hibrida. Kaum muda sering kali memasukkan unsur-unsur budaya global ke dalam praktik lokal mereka, yang memperkaya ekspresi budaya mereka sekaligus menciptakan identitas unik yang mencerminkan kedua pengaruh tersebut (Erastus & Hurst-Harosh, 2020). Konsumsi media global, khususnya melalui platform digital, membentuk persepsi kaum muda tentang identitas budaya mereka sendiri. Identitas ini merupakan komponen penting dari identitas sosial secara umum, yang ditempa pada titik temu antara faktor pribadi dan publik. Konten media lokal dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya transformasi budaya dan informasi (Petrov et al., 2025).
Globalisasi dapat memberdayakan kaum muda dengan memberi mereka akses ke berbagai sumber daya dan jaringan budaya. Akses ini memungkinkan mereka untuk menegaskan identitas mereka dengan cara-cara baru, sering kali menggunakan simbol-simbol global untuk meningkatkan praktik-praktik budaya lokal mereka ((Erastus & Hurst-Harosh, 2020); (Ritter & Schönberger, 2017)). Secara luas diakui bahwa keterlibatan kaum muda dalam pelestarian dan promosi warisan budaya dianggap sebagai hal yang sangat penting dalam meningkatkan kesadaran akan warisan budaya (Menkshi et al., 2021). Oleh karena itu, proses pelestarian tradisi sosial-budaya di daerah pedesaan dalam praktik-praktik sosial generasi muda harus mendapat perhatian yang lebih besar. Pentingnya reproduksi sosial budaya tradisional dalam tindakan generasi muda relevan dengan pelestarian identitas komunitas lokal dan regional. Proses ini berfungsi sebagai penyeimbang terhadap erosi rasa memiliki sosial dan nasional, sehingga memfasilitasi pemeliharaan identitas budaya yang berbeda (Rodionova et al., 2020).
Meski globalisasi menawarkan jalan bagi pengayaan budaya dan pemberdayaan pemuda, globalisasi juga menimbulkan risiko pengenceran identitas dan erosi budaya. Seiring dengan pengaruh global yang merasuki kehidupan sehari-hari, muncul kekhawatiran tentang terkikisnya identitas budaya lokal. Globalisasi dapat mengancam budaya lokal dengan mendorong homogenisasi. Ketika merek dan tren global mendominasi, praktik tradisional dapat dikesampingkan, yang menyebabkan hilangnya warisan budaya di kalangan pemuda yang mungkin lebih mengutamakan identitas global daripada identitas lokal (Erastus & Hurst-Harosh, 2020). Untuk itu, peran pemuda dalam melestarikan budaya lokal menjadi sangat penting dalam meningkatkan ketahanan budaya, meningkatkan kesejahteraan pemuda, dan melakukan inovasi terhadap daya tarik budaya lokal, akses, fasilitas, dukungan, keamanan, dan kenyamanan (Lubis et al., 2021). Keseimbangan antara merangkul pengaruh global dan melestarikan tradisi lokal sangat penting untuk mempertahankan identitas budaya yang kuat di kalangan pemuda setempat. Penelitian ini berfokus pada Paguyuban Puseur Galuh - Ciamis, sebuah organisasi pemuda yang didedikasikan untuk mempromosikan budaya dan warisan lokal. Dengan mengeksplorasi inovasi sosial pemuda di daerah, bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya lokal, mewariskan warisan budaya lintas generasi, dan mengatasi isolasi sosial yang dapat memfasilitasi pertukaran pengetahuan, memperkaya aspek sosial dan budaya (García-Mieres et al., 2024). |
en_US |
| dc.description.abstract |
Konservasi lingkungan dan budaya merupakan dua aspek penting yang saling berkaitan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan. Lingkungan yang lestari tidak dapat dipisahkan dari budaya lokal yang arif dalam mengelola sumber daya alam. Sebaliknya, kekayaan budaya akan sulit bertahan tanpa dukungan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara keduanya menjadi kunci dalam menciptakan masa depan yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
Paguyuban Puseur Galuh, sebuah organisasi pemuda, dalam membina identitas budaya lokal di tengah tekanan globalisasi di Ciamis, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dengan pimpinan paguyuban, tokoh masyarakat termasuk anggota paguyuban, observasi partisipan dilakukan untuk menilai bagaimana keterlibatan pemuda dalam kegiatan budaya berkontribusi pada pelestarian dan revitalisasi tradisi lokal. Dokumentasi juga dilakukan untuk menyediakan bukti pendukung yang membantu proses peninjauan ulang maupun memvisualisasikan perspektif subjek penelitian. Data dianalisis secara tematis untuk mengidentifikasi pola dan wawasan utama terkait keterlibatan pemuda dalam restorasi budaya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam praktik budaya tidak hanya memperkuat ikatan komunitas tetapi juga memberdayakan pemuda untuk menegaskan identitas budaya mereka terhadap pengaruh global. Hasil penelitian menggarisbawahi pentingnya organisasi pemuda dalam keberlanjutan budaya dan menyoroti jalur potensial untuk meningkatkan identitas lokal melalui inisiatif yang digerakkan oleh komunitas. |
en_US |