| dc.description.abstract |
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan (PJOK) pada fase C sekolah dasar memiliki karakteristik aktivitas fisik
yang berpotensi menimbulkan risiko cedera, sehingga menuntut kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran secara aman, efektif, dan adaptif. Pendekatan yang
relevan dengan kepemimpinan situasional, yaitu kemampuan guru menyesuaikan
gaya kepemimpinan dengan tingkat kesiapan peserta didik dan situasi pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan kepemimpinan situasional guru
PJOK dalam pembelajaran berisiko cedera di fase C, mengidentifikasi gaya
kepemimpinan yang paling dominan digunakan, menganalisis respons dan perilaku
siswa, serta mengungkap faktor pendukung dan penghambat keberhasilan
penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
studi kasus yang dilaksanakan di SDN 3 Sukanagara Kecamatan Padaherang
Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, dengan informan utama
meliputi kepala sekolah, guru PJOK, dan pengawas sekolah. Analisis data dilakukan
secara deskriptif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kepemimpinan
situasional guru PJOK dalam pembelajaran berisiko cedera telah dilaksanakan
melalui empat gaya kepemimpinan, yaitu mengarahkan (directing/telling),
konsultatif (coaching/selling), partisipatif (supporting/participating), dan
mendelegasikan (delegating). Gaya kepemimpinan yang paling dominan digunakan
adalah gaya mengarahkan/konsultatif, terutama pada aktivitas PJOK yang memiliki
tingkat risiko cedera tinggi. Respons siswa menunjukkan peningkatan rasa aman,
keberanian, dan keaktifan dalam pembelajaran, meskipun tingkat kemandirian masih
perlu dikembangkan. Faktor pendukung meliputi kompetensi profesional guru,
pengalaman mengajar, komunikasi efektif, serta dukungan sarana prasarana,
sedangkan faktor penghambat meliputi jumlah siswa yang terlalu banyak, perbedaan
kemampuan siswa, keterbatasan waktu, dan rendahnya kesadaran keselamatan
peserta didik. |
en_US |