| dc.description.abstract |
Latar Belakang: Fenomena fatherless semakin meningkat di Indonesia dengan prevalensi 25,8% (2025), tertinggi di Jawa Barat sebesar 29,5% (BKKBN, 2025). Sekitar 33% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental namun hanya 4,3% orang tua yang menyadarinya (I-NAMHS, 2022), dengan angka di Kabupaten Ciamis mencapai 12,8% (Dinkes Ciamis, 2025). Tujuan: Menganalisis hubungan antara fatherless dengan kesehatan mental remaja di SMA Negeri 1 Baregbeg. Metode: Kuantitatif deskriptif korelasional, desain cross-sectional, 76 responden kelas X dan XI dipilih dengan purposive sampling. Instrumen menggunakan Father Presence Questionnaire (FPQ) dan Depression Anxiety Stress Scales (DASS-21), dianalisis dengan uji Spearman. Hasil: Sebagian besar responden pada kategori kehadiran ayah sedang (63,2%). Dimensi depresi: 70% normal, 25% ringan, sedang 5%. Dimensi kecemasan: 51% normal, 39% ringan, 9% sedang. Dimensi stres: 43% normal, 45% ringan, 12% sedang. Terdapat hubungan negatif signifikan antara fatherless dengan kesehatan mental (r = -0,490, p = 0,000). Kesimpulan: Semakin rendah kehadiran ayah maka semakin tinggi gejala depresi, kecemasan, dan stres pada remaja. Diperlukan skrining kesehatan mental berbasis sekolah dan edukasi bagi ayah tentang pentingnya keterlibatan emosional dalam pengasuhan. |
en_US |
| dc.description.sponsorship |
Reni Hertini, S,Kep.,Ners.,M.Kep
Ade Sity Riyantina, S.Kep.,Ners.,M.Kep |
en_US |