<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Nursing</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/3245</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 00:35:56 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-04T00:35:56Z</dc:date>
<item>
<title>HUBUNGAN SKOR APGAR MENIT KE-5 DENGAN LAMA RAWAT INAP NEONATUS DI RUMAH SAKIT UMUM AL-ARIF</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8986</link>
<description>HUBUNGAN SKOR APGAR MENIT KE-5 DENGAN LAMA RAWAT INAP NEONATUS DI RUMAH SAKIT UMUM AL-ARIF
Aprilia, Ira
Kesehatan neonatus merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Skor APGAR menit ke-5 dinilai lebih valid dalam memprediksi luaran klinis jangka panjang dibandingkan skor menit ke-1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara skor APGAR menit ke-5 dengan lama rawat inap neonatus di Rumah Sakit Umum Al-Arif Kabupaten Ciamis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Populasi berjumlah 196 neonatus yang dirawat pada periode November 2025 hingga Januari 2026, dengan sampel sebanyak 66 responden yang dipilih menggunakan teknik Purposive Sampling berdasarkan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi rekam medis menggunakan lembar observasi/checklist. Analisis data menggunakan uji Korelasi Spearman Rank dengan taraf signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar neonatus memiliki skor APGAR menit ke-5 dalam kategori normal (63,6%). Rata-rata lama rawat inap neonatus adalah 3,82 hari dengan rentang 2 hingga 8 hari. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara skor APGAR menit ke-5 dengan lama rawat inap neonatus (p = 0,000) dengan koefisien korelasi negatif yang kuat (r = -0,713), yang berarti semakin rendah skor APGAR menit ke-5 maka semakin lama neonatus memerlukan perawatan di rumah sakit. Disarankan agar tenaga kesehatan mengoptimalkan penggunaan skor APGAR menit ke-5 sebagai prediktor klinis awal dalam penyusunan discharge planning, serta manajemen rumah sakit dapat menggunakan informasi ini untuk perencanaan efisiensi tempat tidur dan sumber daya di ruang perinatologi.
</description>
<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8986</guid>
<dc:date>2026-03-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIJEUNJING (Studi Kasus Uptd  Puskesmas Cijeunjing di Desa Kertaharja)</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8938</link>
<description>HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIJEUNJING (Studi Kasus Uptd  Puskesmas Cijeunjing di Desa Kertaharja)
SYAIFUL FAJRI, MUHAMAD
ABSTRAK&#13;
&#13;
Hubungan Kualitas Tidur dengan Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cijeunjing (Studi Kasus di Desa Kertaharja)&#13;
&#13;
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak terjadi pada lansia dan menjadi penyebab utama meningkatnya angka morbiditas serta mortalitas. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian hipertensi adalah kualitas tidur. Lansia yang mengalami gangguan tidur cenderung mengalami peningkatan aktivitas saraf simpatik sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan hipertensi pada lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cijeunjing Kabupaten Ciamis Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cijeunjing dengan sampel sebanyak 89 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan hipertensi diukur melalui pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer sesuai standar operasional prosedur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 59 orang (66,3%), sedangkan hipertensi derajat 2 merupakan kategori yang paling banyak ditemukan, yaitu 40 orang (45,0%). Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p = 0,000 (&lt;0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,614, yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi kuat antara kualitas tidur dan hipertensi pada lansia. Disimpulkan bahwa semakin buruk kualitas tidur lansia, semakin tinggi kecenderungan mengalami hipertensi. Oleh karena itu, peningkatan kualitas tidur perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi pada lansia.&#13;
&#13;
Kata Kunci: kualitas tidur, hipertensi, lansia, PSQI.
</description>
<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8938</guid>
<dc:date>2026-07-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Tamansari Tasikmalaya</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8848</link>
<description>Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Tamansari Tasikmalaya
Ambarwati, Endah
Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan yang berisiko &#13;
menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan. Penelitian ini bertujuan &#13;
untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap penurunan &#13;
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Puskesmas Tamansari &#13;
Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan &#13;
pretest-posttest control group. Sampel berjumlah 42 lansia usia 60–74 tahun yang &#13;
dipilih secara random sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (21 &#13;
responden) dan kelompok kontrol (21 responden). Kelompok intervensi diberikan &#13;
terapi relaksasi otot progresif sesuai SOP selama 7 hari, sedangkan kelompok &#13;
kontrol hanya mendapatkan perawatan rutin tanpa intervensi relaksasi. Instrumen &#13;
yang digunakan adalah SOP terapi relaksasi otot progresif dan pengukuran tekanan &#13;
darah menggunakan tensimeter terkalibrasi. Analisis data menggunakan uji &#13;
Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan median tekanan darah &#13;
sistolik kelompok intervensi menurun dari 140 mmHg menjadi 123 mmHg dan &#13;
diastolik dari 91 mmHg menjadi 80 mmHg dengan p-value 0,000 (p&lt;0,05). Pada &#13;
kelompok kontrol, penurunan tekanan darah tidak menunjukkan perubahan yang &#13;
signifikan (p&gt;0,05). Terdapat perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan &#13;
kontrol (p=0,001). Disimpulkan bahwa terapi relaksasi otot progresif berpengaruh &#13;
signifikan &#13;
dalam menurunkan tekanan darah lansia hipertensi dan &#13;
direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis dalam pelayanan &#13;
keperawatan komunitas.
</description>
<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8848</guid>
<dc:date>2026-03-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Terapi Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Lansia Penderita Hipertensi Di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8844</link>
<description>Pengaruh Terapi Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Lansia Penderita Hipertensi Di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya
Aulia, Siva
Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan yang berisiko &#13;
menyebabkan komplikasi serius sehingga diperlukan intervensi non-farmakologis &#13;
yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Slow Deep &#13;
Breathing (SDB) terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Puskesmas &#13;
Purbaratu Kota Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental &#13;
dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 lansia usia ≥60 &#13;
tahun (63,3% perempuan), dipilih dengan teknik purposive sampling. Intervensi &#13;
SDB dilakukan selama 15 menit, dua kali sehari selama 14 hari. Pengukuran &#13;
tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter &#13;
aneroid. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test setelah uji normalitas &#13;
Shapiro-Wilk menunjukkan data berdistribusi normal (p&gt;0,05). Hasil penelitian &#13;
menunjukkan penurunan signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik baik pagi &#13;
maupun sore hari (p=0,000; p&lt;0,05). Rata-rata sistolik pagi menurun dari 164,17 &#13;
mmHg menjadi 146,10 mmHg, dan diastolik dari 103,40 mmHg menjadi 94,83 &#13;
mmHg. Disimpulkan bahwa terapi SDB berpengaruh signifikan dalam menurunkan &#13;
tekanan darah lansia. Terapi ini direkomendasikan sebagai intervensi mandiri &#13;
keperawatan dalam pengendalian hipertensi pada lansia.
</description>
<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8844</guid>
<dc:date>2026-03-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
