| dc.description.abstract |
Perhitungan Quantity Take-Off (QTO) konvensional berbasis gambar 2D rawan memicu kesalahan estimasi biaya dan pemborosan material pada proyek konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan 5D Building Information Modeling (BIM) dengan Autodesk Revit dalam mengestimasi volume dan biaya pekerjaan struktur pada proyek pembangunan Closed House di Kota Tasikmalaya. Analisis ini difokuskan pada penelusuran faktor penyebab deviasi kuantitas material dan rencana anggaran biaya di antara kedua metode.
Pendekatan kuantitatif komparatif diterapkan dengan mengolah data sekunder berupa gambar 2D Detailed Engineering Design (DED), Bill of Quantities (BoQ), dan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) proyek tahun 2021. Data tersebut diolah untuk merekonstruksi model 3D parametrik guna mengekstrak volume material secara otomatis melalui fitur Schedules/Quantities. Lingkup pemodelan dibatasi pada elemen penopang struktur utama, yang mencakup struktur bawah beton (lantai kerja, pondasi, balok sloof, pedestal) dan struktur atas baja profil IWF 150.75.5.7.
Hasil studi menunjukkan estimasi biaya metode konvensional sebesar Rp223.913.707,68, sedangkan metode BIM 5D menghasilkan Rp187.346.101,38, sehingga diperoleh efisiensi anggaran sebesar Rp36.567.606,30 (16,33%). Deviasi biaya ini dipicu oleh kemampuan otomatisasi kuantitas bersih (net quantity) BIM yang sukses mengeliminasi perhitungan ganda (double counting) beton, mengoreksi taksiran berlebih (overestimation) tinggi pedestal sebesar 0,20 meter, mengatasi luput hitung (error of omission) panjang sloof 15x20 cm sejauh 17,2 meter, serta mengoptimalkan sisa potongan baja profil melalui simulasi pola pemotongan (nesting schedule). Penerapan BIM 5D terbukti meningkatkan presisi kuantitas material dan efisiensi biaya pada bangunan industrial yang bersifat repetitif. |
en_US |