Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya penggunaan media sosial sebagai ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat menyampaikan berbagai pandangan secara terbuka. Dalam praktiknya, penggunaan bahasa pada media sosial tidak selalu menunjukkan penerapan prinsip kesantunan berbahasa. Fenomena tersebut terlihat pada kolom komentar konten klarifikasi Gus Elham di platform TikTok yang menampilkan beragam tanggapan netizen. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik kesantunan berbahasa yang muncul dalam komentar netizen pada konten klarifikasi Gus Elham di platform TikTok serta mendeskripsikan model konseptual pemanfaatannya sebagai alternatif pengayaan bahan ajar teks argumentasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan tertulis netizen dalam kolom komentar pada lima belas konten klarifikasi Gus Elham yang diunggah melalui berbagai akun TikTok pada periode 11 sampai 17 November 2025. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan teknik dokumentasi. Adapun teknik analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kesantunan berbahasa netizen dalam komentar pada konten klarifikasi Gus Elham diwujudkan melalui kecenderungan pematuhan dan pelanggaran terhadap prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech yang meliputi maksim kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan simpati. Karakteristik tersebut tercermin melalui tuturan yang mengandung dukungan, empati, penghargaan, sindiran, celaan, maupun ketidaksetujuan. Berdasarkan hasil analisis, data kesantunan berbahasa dalam komentar netizen tersebut memiliki relevansi dengan capaian pembelajaran teks argumentasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengayaan bahan ajar. Pemanfaatan tersebut dituangkan dalam bentuk model konseptual e-modul yang memuat materi, contoh, dan kegiatan analisis kesantunan berbahasa berbasis data autentik dari media sosial. Kehadiran model konseptual tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik memahami penggunaan bahasa yang santun dalam menyampaikan pendapat serta mendukung pembelajaran teks argumentasi yang lebih kontekstual.