Abstract:
Asma bronchiale merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan episode takipnea dan dyspneu berulang, khususnya pada fase eksaserbasi akut. Penatalaksanaan standar melibatkan terapi farmakologis berupa nebulisasi bronkodilator; namun intervensi non-farmakologis berupa tripod position diyakini mampu mengoptimalkan kerja diafragma dan otot bantu napas sehingga memperbaiki ventilasi paru, terutama bila diterapkan sebelum terapi nebulisasi dimulai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tripod position terhadap frekuensi napas dan skor dyspneu pada pasien asma bronchiale. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 30 pasien dewasa (usia 19–59 tahun) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Responden dirawat di Ruang Rawat Inap Dalam RSUD Kawali pada bulan Januari–Februari 2026, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (56,7%). Intervensi berupa posisi tripod diberikan selama 15 menit sebanyak satu kali sebelum terapi nebulisasi. Frekuensi napas diukur menggunakan stopwatch, sedangkan dyspneu diukur menggunakan Modified Borg Scale (0–10). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata frekuensi napas menurun dari 26,87 menjadi 21,90 kali/menit (selisih 4,97 kali/menit), dan skor dyspneu menurun dari 5,30 menjadi 2,43 (selisih 2,87 poin). Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p < 0,001 untuk kedua variabel tersebut. Disimpulkan bahwa tripod position berpengaruh signifikan terhadap penurunan frekuensi napas dan skor dyspneu pada pasien asma bronchiale.