Abstract:
Imam Saepulloh. 2025 Implementasi Program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Oleh Kantor Urusan Agama Di Wilayah Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis.
Penelitian ini di latarbekangi belum optimalnya Implementasi Program Bimbingan Perkawinan (BIMWIN) oleh Kantor Urusan Agama Wilayah Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis, hal itu terlihat dari indicator indicator masalah, diantaranya; 1) Implementasi Program Bimbingan Perkwinan oleh Kantor Urusan Agama Wilayah Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis belum optimal, karena masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh Kantor Urusan Agama Wilayah Kecamatan Rancah. 2) Calon pengantin menilai bahwa para pelaksana belum mampu menunjukkan kemampuan mereka dengan baik di lapangan. 3) Program bimbingan perkawinan tidak berjalan maksimal karena adanya keterbatasan pada sumber daya manusia pelaksananya, baik dari sisi kualifikasi akademik maupun keterampilan komunikasi. Kekurangan ini secara langsung memengaruhi efektivitas penyampaian materi dan profesionalisme dalam menjalankan program. 3) Belum memadainya anggaran untuk mendukung berjalannya program Bimbingan Perkawinan. 4) Belum terbentuknya struktur organisasi program yang jelas.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Informan sebanyak 5 orang yang terdiri dari Kepala Kantor Urusan Agama 1 orang, staf Program Bimbingan Perkawinan sekaligus Penyuluh 1 Orang, dan 3 orang dari masyarakat / calon pengantin. Teknik pengumpulan data adalah studi kepustakaan, studi lapangan (observasi dan wawancara). Selanjutnya setelah data diperoleh maka dilakukan pengolahan data melalui redukasi data, display data, serta verifikasi dan kesimpulan. Adapun untuk menguji keabsahan data penulis menambahkan teknik triangulasi, dan triangulasi yang di pilih adalah triangulasi sumber (data).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Implementasi Program Bimbingan Perkawinan oleh Kantor Urusan Agama Wilayah Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis, yang di ukur dengan enam dimensi yang terdiri dari empat belas indikator. Diketahui bahwa dari empat belas indikator tersebut belumlah optimal. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya sosialisasi, sumber daya para pelaksana belum kompeten, belum memadainya anggaran untuk pelaksanaan kegiatan program, dan belum terbentuknya struktur organisasi yang jelas.