Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat sekolah dasar. Proses pembelajaran
factual di lapangan menunjukkan dominasi metode konvensional (ceramah) dan
ketergantungan pada modul cetak yang kurang interaktif. Akibatnya, aktivitas otak peserta
didik kurang terstimulasi optimal dan sebagian besar siswa masih berada pada tingkatan
berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS). Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan rancangan, implementasi, hasil keterampilan berpikir kritis, serta evaluasi
dari penerapan E-Modul IPA berbasis Brain-Based Learning (BBL) di Kelas VI SD Negeri 1
Cibanten. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang dikombinasikan
dengan pendekatan adaptasi langkah-langkah Research and Development (R&D) atau
penelitian pengembangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi aktivitas
peserta didik dan keterampilan berpikir kritis, wawancara mendalam bersama guru kelas dan
siswa, kuesioner angket kepuasan, dokumen pendukung, serta pelaksanaan tes (pre-test dan
post-test). Analisis data teoretis diselaraskan dengan prinsip pembelajaran berbasis kerja otak
alami oleh Eric Jensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E-Modul IPA berbasis BBL
dinilai sangat layak digunakan berdasarkan validasi ahli dengan predikat "Sangat Baik" (ratarata
skor 3,50–4,00). Penerapan e-modul ini terbukti mampu mengaktifkan keterlibatan
kognitif dan motorik siswa melalui fitur video interaktif, kuis, dan latihan mandiri.
Berdasarkan analisis pre-test dan post-test, terdapat peningkatan keterampilan berpikir kritis
siswa yang signifikan, terutama pada aspek interpretasi, analisis, dan evaluasi informasi. Siswa
menunjukkan kemandirian, motivasi yang tinggi, serta respon emosional yang positif selama
pembelajaran rendah stres. Kendala utama yang ditemukan dalam refleksi implementasi
adalah keterbatasan teknis seperti stabilitas koneksi internet pada beberapa perangkat siswa.
Tindak lanjut penelitian merekomendasikan adanya optimalisasi penggunaan e-modul pada
materi IPA lainnya serta penguatan workshop digital bagi guru demi keberlanjutan
inovasi.Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana
integrasi teknologi dan metode pembelajaran berbasis kerja otak alami dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Dengan penerapan E-Modul IPA berbasis BBL, siswa
tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi pelajaran, tetapi
juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang esensial untuk menghadapi tantangan
masa depan. Selain itu, dengan adanya peningkatan motivasi dan respon positif dari siswa,
diharapkan metode ini dapat diterapkan lebih luas dan menjadi model bagi sekolah-sekolah
lain dalam mengoptimalkan pembelajaran.Keberhasilan ini juga menyoroti pentingnya
pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru agar mereka dapat dengan percaya diri
memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat menjadi
fasilitator yang efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan
menyenangkan. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi penerapan metode ini dalam
konteks pembelajaran yang berbeda, serta mengatasi kendala teknis yang dihadapi untuk
memastikan akses yang merata bagi semua siswa.