Abstract:
ABSTRAK
Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu dan janin. Status gizi, yang salah satunya dapat dinilai melalui Indeks Massa Tubuh (IMT), diduga berhubungan dengan kejadian anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT ibu hamil dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 441 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan pada tahun 2025. Sampel sebanyak 82 ibu hamil dipilih dengan simple random sampling. Data sekunder diperoleh dari register pemeriksaan ibu hamil dan rekam medis, meliputi data berat badan, tinggi badan/IMT, dan kadar hemoglobin. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Sebagian besar responden memiliki IMT normal, yaitu 41 orang (50,0%), dan 39 orang (47,6%) mengalami anemia. Seluruh ibu hamil dengan IMT kurus mengalami anemia, sedangkan pada kelompok IMT normal sebagian besar tidak mengalami anemia. Hasil uji Chi-Square menunjukkan p-value=0,005 (p<0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara IMT ibu hamil dengan kejadian anemia. Pemantauan status gizi sejak awal kehamilan perlu diperkuat bersamaan dengan skrining hemoglobin, edukasi gizi seimbang, dan peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
Kata kunci: anemia, ibu hamil, indeks massa tubuh, status gizi
ABSTRACT
Anemia among pregnant women remains a public health problem that may increase the risk of maternal and fetal complications. Nutritional status, including Body Mass Index (BMI), is considered to be associated with anemia. This study aimed to determine the association between maternal BMI and anemia among pregnant women in the working area of Sukaraja Primary Health Center, Tasikmalaya Regency. This was a quantitative analytic study with a cross-sectional approach. The population consisted of 441 pregnant women who attended antenatal care in 2025. A total of 82 respondents were selected using simple random sampling. Secondary data were obtained from antenatal registers and medical records, including body weight, height/BMI, and hemoglobin levels. Data were analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test with a significance level of 0.05. Most respondents had normal BMI (41; 50.0%), while 39 respondents (47.6%) had anemia. All pregnant women with underweight BMI had anemia, whereas most women with normal BMI were not anemic. The Chi-Square test showed p-value=0.005 (p<0.05), indicating a significant association between maternal BMI and anemia. Monitoring nutritional status from early pregnancy should be strengthened together with hemoglobin screening, balanced nutrition education, and improved adherence to iron supplementation.
Keywords: anemia, body mass index, nutritional status, pregnant women
PENDAHULUAN
Anemia pada ibu hamil merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah batas normal sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen menurun. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. Di Indonesia, anemia pada ibu hamil masih memerlukan penanganan melalui pelayanan antenatal yang berkualitas, pemantauan status gizi, pemeriksaan hemoglobin, edukasi gizi seimbang, dan konsumsi tablet tambah darah. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil usia 15–49 tahun sebesar 13,25%. Studi pendahuluan pada register ibu hamil di Puskesmas Sukaraja menunjukkan bahwa dari 441 sasaran ibu hamil selama Januari–Desember 2025 terdapat sekitar 95 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan Hb yang menunjukkan anemia.
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator sederhana untuk menggambarkan status gizi berdasarkan perbandingan berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Status gizi yang tidak normal, khususnya IMT rendah, dapat berkaitan dengan rendahnya cadangan zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu hamil dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen adalah IMT ibu hamil dan variabel dependen adalah kejadian anemia. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya pada April–Mei 2026 dengan menggunakan data pemeriksaan ibu hamil periode Januari–Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan pada tahun 2025 sebanyak 441 orang. Sampel berjumlah 82 responden, ditentukan menggunakan rumus Slovin dan dipilih dengan teknik simple random sampling. Data sekunder diperoleh dari register pemeriksaan ibu hamil dan rekam medis.
IMT dikategorikan menjadi kurus (<18,5), normal (18,5–24,9), lebih (25–29,9), dan obesitas (≥30). Kejadian anemia dikategorikan sebagai anemia apabila Hb <11 g/dL dan tidak anemia apabila Hb ≥11 g/dL. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Penelitian memperhatikan prinsip kerahasiaan dan anonimitas data.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 1
Karakteristik Responden
Variabel Kategori f %
Usia <20 tahun 4 4,9
20–35 tahun 67 81,7
>35 tahun 11 13,4
Pendidikan SD 10 12,2
SMP 31 37,8
SMA 37 45,1
Perguruan Tinggi 4 4,9
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga 59 72,0
Petani/Buruh 15 18,3
Wiraswasta 5 6,1
Pegawai 3 3,7
Usia kehamilan Trimester I 12 14,6
Trimester II 37 45,1
Trimester III 33 40,2
Paritas Primigravida 35 42,7
Multigravida 37 45,1
Grandemultigravida 10 12,2
Sebagian besar responden berusia 20–35 tahun (81,7%), berpendidikan SMA (45,1%), merupakan ibu rumah tangga (72,0%), berada pada trimester II (45,1%), dan memiliki paritas multigravida (45,1%).
Tabel 2
Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT) Ibu Hamil
Kategori IMT f %
Kurus 11 13,4
Normal 41 50,0
Lebih 20 24,4
Obesitas 10 12,2
Total 82 100,0
Mayoritas responden memiliki IMT normal sebanyak 41 orang (50,0%). Namun, masih terdapat ibu hamil dengan IMT kurus, lebih, dan obesitas sehingga pemantauan status gizi selama kehamilan tetap diperlukan.
Tabel 3
Distribusi Kejadian Anemia
Kejadian anemia f %
Anemia 39 47,6
Tidak anemia 43 52,4
Total 82 100,0
Sebanyak 39 responden (47,6%) mengalami anemia. Meskipun proporsi tidak anemia sedikit lebih besar, hampir setengah responden mengalami anemia sehingga kondisi ini tetap memerlukan perhatian dalam pelayanan antenatal.
Tabel 4
Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia
IMT Anemia n (%) Tidak anemia n (%) Total n (%)
Kurus 11 (13,4) 0 (0,0) 11 (13,4)
Normal 17 (20,8) 24 (29,2) 41 (50,0)
Lebih 12 (14,7) 8 (9,7) 20 (24,4)
Obesitas 4 (4,9) 6 (7,3) 10 (12,2)
Seluruh responden dengan IMT kurus mengalami anemia, sedangkan pada kategori IMT normal lebih banyak responden yang tidak mengalami anemia. Uji Chi-Square menghasilkan nilai Pearson Chi-Square sebesar 13,026 dengan p-value=0,005. Karena p<0,05, terdapat hubungan yang signifikan antara IMT ibu hamil dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya.
Temuan ini menunjukkan pentingnya status gizi sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi hemoglobin selama kehamilan. Ibu hamil dengan status gizi kurang dapat memiliki cadangan zat besi dan zat gizi lain yang lebih rendah sehingga kebutuhan selama kehamilan lebih sulit dipenuhi. Namun, anemia merupakan kondisi multifaktorial yang juga dapat dipengaruhi oleh asupan makanan, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, usia, paritas, usia kehamilan, infeksi, dan faktor sosial ekonomi. Oleh sebab itu, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan statistik dan tidak membuktikan hubungan sebab akibat.
Secara programatik, hasil penelitian menegaskan perlunya pemantauan IMT sejak awal kehamilan dan tindak lanjut pada ibu dengan status gizi tidak normal. Skrining Hb secara berkala, konseling gizi seimbang, pemantauan konsumsi tablet tambah darah, serta identifikasi faktor risiko lain perlu dilakukan secara terintegrasi dalam pelayanan antenatal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagian besar ibu hamil memiliki IMT normal (50,0%) dan 47,6% responden mengalami anemia. Terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu hamil dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya (p-value=0,005). Pemantauan status gizi ibu hamil perlu diperkuat bersamaan dengan pemeriksaan hemoglobin, edukasi gizi seimbang, dan peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah. Penelitian selanjutnya disarankan memasukkan variabel lain yang dapat memengaruhi anemia serta menggunakan desain yang dapat menjelaskan hubungan temporal dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, D., Sari, M., & Lestari, R. (2025). Upaya pencegahan anemia pada ibu hamil melalui pemberian tablet tambah darah dan edukasi gizi.
Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Dashe, J. S., Hoffman, B. L., Casey, B. M., & Spong, C. Y. (2022). Williams obstetrics (26th ed.). McGraw-Hill Education.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. (2023). Profil Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2023. Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya.
Idyawati, N., Rahmawati, S., & Putri, D. (2024). Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Jurnal Kebidanan Indonesia, 15(1), 10–18.
Isnaini, Y. S., Yuliaprida, R., & Jessica, P. (2021). Hubungan usia, paritas dan pekerjaan terhadap kejadian anemia pada ibu hamil. Nursing Arts, 15(2), 65–74. https://doi.org/10.36741/jna.v15i2.153.
Naibaho, S., Hutagalung, L., & Sinaga, M. (2023). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Jurnal Kebidanan Kestra, 5(2), 89–96.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu kebidanan (Edisi ke-4). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Prihantinah, W., Sartika, R. A. D., & Putri, P. N. (2025). Hubungan kepatuhan minum tablet tambah darah terhadap kadar Hb/anemia pada ibu hamil. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), 622–630.
Tibar, E. (2023). Hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Jurnal Kebidanan Malahayati, 9(3), 350–356.
World Health Organization. (2021). Anaemia in women and children. World Health Organization.