Abstract:
Retensio plasenta menjadi salah satu penyulit persalinan yang perlu diwaspadai karena berkontribusi terhadap terjadinya perdarahan pascasalin dan turut memengaruhi tingginya angka kematian ibu. Secara fungsional, kondisi ini dapat muncul ketika kontraksi uterus tidak adekuat sehingga plasenta sulit lepas, maupun akibat letak, bentuk, dan ukuran plasenta itu sendiri. Di luar itu, faktor maternal, kondisi uterus, serta karakteristik plasenta juga turut berperan. Berangkat dari hal tersebut, penelitian dilakukan untuk menelaah faktor-faktor yang ada hubungannya dengan kejadian retensio plasenta di tempat PONED UPT Puskesmas Banjarwangi pada tahun 2026.
Rancangan yang digunakan merupakan survei analitik dengan pendekatan kontrol kasus. Kelompok kasus dijaring melalui teknik total sampling sebanyak 24 responden, sementara kelompok kontrol berjumlah 72 responden yang dipilih memakai systematic random sampling atau sampel diambil secara acak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square yang pertama berikutnya uji regresi logistikuntuk menentukan faktor paling dominan.
Hasil uji Chi-Square mengindikasikan adanya keterkaitan antara usia ibu dengan retensio plasenta (p=0,021; OR=3,571), paritas (p=0,034; OR=3,000), jarak persalinan (p=0,014; OR=3,545), serta riwayat kuretase (p=0,039; OR=3,000). Seluruh variabel memiliki nilai p di bawah 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa usia, paritas, jarak persalinan, dan riwayat kuretase berhubungan dengan kejadian retensio plasenta di UPT Puskesmas Banjarwangi. Berdasarkan hasil uji regresi logistik, riwayat kuretase menjadi faktor paling dominan dengan OR sebesar 7,543.
Temuan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu pelayanan sekaligus penerapan langkah promotif dan preventif, sehingga risiko persalinan yang disertai retensio plasenta dapat ditekan pada masa mendatang.