<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Benny Prawiranegara</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/638</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 19:12:25 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-24T19:12:25Z</dc:date>
<item>
<title>PELATIHAN PENGELOLAAN KEUANGAN MESJID DI KECAMATAN KERTASARI KABUPATEN CIAMIS</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/720</link>
<description>PELATIHAN PENGELOLAAN KEUANGAN MESJID DI KECAMATAN KERTASARI KABUPATEN CIAMIS
Prawiranegara, Benny
Permasalahan utama mitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut: 1) Masyarakat kurang mengenal pengelolaan keuangan; 2) Masyarakat masih menggunakan akuntansi tradisional dalam melaporkan keuangannya; 3) tidak mengenal akuntansi secara komputerisasi; &#13;
Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengembangkan pengelolaan keuangan yang terstandarisasi oleh Akuntansi; Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 45 tahun 2011 tentang Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba, bahwa organisasi nirlaba membuat laporan keuangan dan melaporkannya kepada para pemakai laporan. sehingga dalam Islam tidak ada pemisahan aspek dunia (secular/profane) aspek akhirat (sacred). &#13;
	Kegiatan pengabdian masyarakat ini direncanakan akan dilaksanakan selama 6 bulan, dimana dalam kegiatan ini Tim pengabdian masyarakat akan melibatkan dua orang mahasiswa yang akan ikut membantu dalam kegiatan ini, agar mahasiswa dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat melalui ilmu yang diperolehnya di bangku perkuliahan.Pelaksanaan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut: 1) Survey keuangan Mesjid Al-Mubarok; 2) Tahap Pembuatan Laporan Keuangan; 3) Tahap Perhitungan Laporan Keuangan Secara Wajar; 4) Tahap Pembuatan dan Implementasi Startegi Laporan Keuangan; 5) Tahap Evaluasi; 6) Tahap Tindak Lanjut.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/720</guid>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Posisi Kredit Perbankan Terhadap Tingkat Kemiskinan Dikabupaten Ciamis</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/696</link>
<description>Analisis Posisi Kredit Perbankan Terhadap Tingkat Kemiskinan Dikabupaten Ciamis
Prawiranegara, Benny
Salah satu kontroversi utama di kalangan para ahli ekonomi pembangunan sejak&#13;
tahun 1960-an adalah kausalitas antara sektor finansial dan sektor riil. mana yang&#13;
merupakan sebab dan mana yang merupakan akibat. (Kitchen. 1986 dan Gurley and&#13;
Shaw. 1967). Lebih lanjut Kuncoro. M (2003) menjelaskan bahwa pandangan kaum&#13;
”neo-liberal”. sering disebut sebagai the development hypothesis. mengatakan bahwa&#13;
pembangunan sektor finansial berperan penting dalam pembangunan ekonomi. Pada&#13;
daswarsa 1980-an. ketika liberalisasi finansial menyebar ke seluruh dunia. peranan&#13;
sektor keuangan seakan tidak dipertentangkan lagi. Namun Patric (1966) tetap&#13;
mengajukan pertanyaan yang kritis dan mendasar: sektor mana. finansial atau riil. yang&#13;
medorong dinamika proses pembangunan ekonomi? Dengan kata lain. ada dua&#13;
kemungkinan hubungan kausalitas antara pembangunan sektor finansial dan&#13;
pertumbuhan ekonomi. yaitu: (1) demand following. bahwa rendahnya pertumbuhan&#13;
finansial adalah manifestasi kurangnya permintaan akan jasa finansial; ataukah (2)&#13;
supply leading. bahwa sektor finansial mendahului dan mendorong pertumbuhan sektor&#13;
riil.&#13;
Isu sentral yang layak untuk diteliti adalah apakah sektor finansial mendorong&#13;
pertumbuhan ekonomi (finance-led growth) ataukah pertumbuhan ekonomi&#13;
mendorong berkembangnya sektor finansial (growth-led finance). Finance-led growth&#13;
berarti mendukung hipotesis supply leading; sedangkan growth-led finance mendukung&#13;
hipotesis demand following.&#13;
Tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di Ciamis perkembangannya&#13;
masih relatif tinggi. Perkembangan tingkat kemiskinan di Ciamis selama 5 tahun&#13;
terakhir yaitu dari tahun 2011 sampai tahun 2015 rata-rata setiap tahunnya adalah&#13;
sebesar 10,78%. jika dibandingkan dengan rata-rata tingkat kemiskinan Nasional.&#13;
Ciamis masih lebih rendah. sebab rata-rata tingkat kemiskinan Nasional dalam periode&#13;
yang sama setiap tahunnya sebesar 12,71%.&#13;
Hasil riset hubungan Kredit Perbankan dengan Tingkat Kemiskinan: 1) Kredit&#13;
Perbankan dengan Tingkat Kemiskinan mempunyai hubungan negatif dan signifikan.&#13;
diantaranya hasil penelitian yang dilakukan oleh Jalilian &amp; Kirk Patrick (1993).&#13;
Honohan (2004). Zhuang. Juzhong et.al. (2009). dan Pradhan. Rudra P (2010). 2)&#13;
Kredit Perbankan dengan Tingkat Kemiskinan mempunyai hubungan simultan&#13;
(hubungan dua arah). diantaranya hasil penelitian yang dilakukan oleh Odhiambo&#13;
(2010). 3) Kredit Perbankan dengan Tingkat Kemiskinan mempunyai hubungan tidak&#13;
simultan. diantaranya hasil penelitian yang dilakukan oleh Pradhan. Rudra P (2010).
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/696</guid>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Penerapan SAPM (Sistem Administrasi Perpajakan Modern) dalam Meningkatkan Informasi Piutang Pajak</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/662</link>
<description>Penerapan SAPM (Sistem Administrasi Perpajakan Modern) dalam Meningkatkan Informasi Piutang Pajak
Prawiranegara, Benny
RINGKASAN&#13;
Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) dalam sistem pengolahan data elektronik terdiri dari keseluruhan metode, kebijaksanaan, dan prosedur-prosedur organisasi untuk menjamin pencapaian tujuan dari pengembangan dan penerapan sistem. Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) dilakukan secara terpadu sejak tahap-tahap awal pengembangan sistem sepanjang masa penerapan sistem tersebut serta harus menjadi bagian yang integral dari rancangan sistem yang dikembangkan. Laudon (2000: 506) mengklasifikasikan Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) dalam lingkungan pengolahan data elektronik menjadi dua kategori, yaitu Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) umum dan Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) aplikasi.&#13;
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif  dimana metode deskriptif menurut A.Gima Sugiama (2008 : 37) adalah riset yang berupaya mengumpulkan data, menganalisis secara kritis atas data-data tersebut dan menyimpulkannya berdasarkan fakta-fakta pada masa penelitian berlangsung atau masa sekarang meliputi ; tahapan-tahapan penelitian, lokasi penelitian, perubah yang diamati atau diukur, model yang digunakan, rancangan penelitian, serta tehnik pengumpulan data dan analisis data. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa realisasi pencairan piutang untuk tahun 2012 hanya terealisasi sebesar 31.09%, sedangkan untuk tahun 2013 mencapai 100.34%, kemudian pada tahun 2014 naik menjadi 132.63%; 3) dan pada tahun 2015 102,20%.&#13;
Adapun kesimpulan yang telah diperoleh yaitu sebagai berikut: 1) Sistem administrasi perpajakan modern (SAPM) yang dilaksanakan pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Ciamis telah cukup memadai. Hal ini dapat dilihat dari tiga unsur pokok yakni aspek teknologi informasi yang meliputi: Media Informasi Pajak; e-system perpajakan. Aspek Perangkat Keras dan Perangkat Lunak, meliputi: penyediaan computer, Adanya Standard Operating Procedures (SOP); Tempat Pelayanan Terpadu (TPT); Help Desk; Complaint Center, dan Aspek Sumber Daya Manusia; 2) Informasi piutang pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Ciamis cukup memadai. Sistem Administrasi Perpajakan Modern (SAPM) pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Ciamis berperan dalam meningkatkan informasi piutang pajak.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/662</guid>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
