<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Law</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/3232</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 04:57:45 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-28T04:57:45Z</dc:date>
<item>
<title>ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA KEALPAAN GURU MADRASAH TSANAWIYAH HARAPAN BARU YANG MENYEBABKAN KEMATIAN SISWA PADA SAAT EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 359 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIAMIS NOMOR : 188/Pid.B/2022/PN.Cms)</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9203</link>
<description>ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA KEALPAAN GURU MADRASAH TSANAWIYAH HARAPAN BARU YANG MENYEBABKAN KEMATIAN SISWA PADA SAAT EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 359 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIAMIS NOMOR : 188/Pid.B/2022/PN.Cms)
YUNIA PRITAMA, VINA
ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA KEALPAAN GURU&#13;
MADRASAH TSANAWIYAH HARAPAN BARU YANG MENYEBABKAN&#13;
KEMATIAN SISWA PADA SAAT EKSTRAKURIKULER PRAMUKA&#13;
DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 359 KITAB UNDANG-UNDANG&#13;
HUKUM PIDANA (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR :&#13;
188/Pid.B/2022/PN.Cms)&#13;
Peristiwa meninggalnya siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka di&#13;
MTs Harapan Baru Kabupaten Ciamis menimbulkan persoalan hukum terkait&#13;
pertanggungjawaban pidana guru sebagai pembina kegiatan. Dalam pelaksanaan&#13;
kegiatan di luar kelas, guru memiliki kewajiban untuk memberikan pengawasan dan&#13;
menjamin keselamatan peserta didik. Namun, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan&#13;
dengan pengawasan yang memadai sehingga menimbulkan tindak pidana kealpaan&#13;
yang berakibat pada meninggalnya sejumlah siswa.&#13;
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana analisis yuridis&#13;
terhadap penerapan Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terhadap&#13;
tindak pidana kealpaan yang dilakukan oleh guru serta bagaimana pertimbangan&#13;
hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana dalam Putusan Nomor:&#13;
188/Pid.B/2022/PN.Cms.&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan&#13;
spesifikasi deskriptif analitis, menggunakan data sekunder melalui studi&#13;
kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif untuk mengetahui kesesuaian antara&#13;
norma hukum dengan fakta perkara.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian, penerapan Pasal 359 KUHP telah memenuhi&#13;
unsur barang siapa, karena kesalahannya (kealpaannya), dan menyebabkan orang&#13;
lain meninggal dunia. Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana kealpaan yang&#13;
mengakibatkan meninggalnya 11 siswa. Namun, pidana penjara selama 2 tahun 6&#13;
bulan dinilai masih relatif ringan sehingga belum sepenuhnya mencerminkan rasa&#13;
keadilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan hakim belum secara&#13;
optimal mempertimbangkan beratnya tingkat kelalaian terdakwa beserta akibat&#13;
yang ditimbulkan, yakni meninggalnya 11 (sebelas) orang siswa.&#13;
Disarankan agar tenaga pendidik meningkatkan pengawasan dan&#13;
kehatihatian dalam kegiatan siswa serta diperlukan standar operasional prosedur&#13;
yang jelas. Hakim juga diharapkan mempertimbangkan keseimbangan aspek&#13;
yuridis dan non yuridis agar tercapai keadilan.&#13;
Kata kunci : tindak pidana kealpaan, Pasal 359 KUHP, pertanggungjawaban pidana,&#13;
guru, putusan hakim.
</description>
<pubDate>Sat, 23 May 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9203</guid>
<dc:date>2026-05-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ANALISIS YURIDIS ASAS PROPORSIONALITAS DALAM PENJATUHAN PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA KECELAKAAN LALU LINTAS DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 310 AYAT (4) UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN (Studi Putusan Nomor 113/Pid.Sus/2022/PN.Cms)</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9160</link>
<description>ANALISIS YURIDIS ASAS PROPORSIONALITAS DALAM PENJATUHAN PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA KECELAKAAN LALU LINTAS DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 310 AYAT (4) UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN (Studi Putusan Nomor 113/Pid.Sus/2022/PN.Cms)
PRATAMA,MAHARDHIKA,GALUH
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan antara beratnya akibat tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia dengan pidana yang dijatuhkan dalam Putusan Pengadilan Negeri Ciamis Nomor 113/Pid.Sus/2022/PN Cms. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan mengenai penerapan asas proporsionalitas dalam penjatuhan pidana, khususnya terkait keseimbangan antara tingkat kesalahan pelaku, akibat yang ditimbulkan, dan pidana yang dijatuhkan.&#13;
&#13;
Identifikasi masalah dalam penelitian ini meliputi bagaimana penerapan asas proporsionalitas dalam penjatuhan pidana terhadap tindak pidana kecelakaan lalu lintas dalam Putusan Pengadilan Negeri Ciamis Nomor 113/Pid.Sus/2022/PN Cms serta bagaimana pertimbangan hakim dalam menerapkan asas proporsionalitas pada penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana kecelakaan lalu lintas dalam putusan tersebut.&#13;
&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang didukung dengan wawancara sebagai data pendukung. Analisis bahan hukum dilakukan secara kualitatif dengan metode deskriptif-analitis menggunakan asas proporsionalitas sebagai pisau analisis utama.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asas proporsionalitas dalam Putusan Pengadilan Negeri Ciamis Nomor 113/Pid.Sus/2022/PN Cms belum sepenuhnya mencerminkan keseimbangan antara tingkat kesalahan pelaku, beratnya akibat yang ditimbulkan, dan pidana yang dijatuhkan. Pidana penjara selama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan dinilai masih relatif ringan apabila dibandingkan dengan akibat perbuatan terdakwa yang menyebabkan empat orang meninggal dunia. Pertimbangan hakim lebih menitikberatkan pada aspek kelalaian pelaku dan keadaan yang meringankan dibandingkan pada dampak serius serius yang ditimbulkan terhadap korban.&#13;
&#13;
Saran dalam penelitian ini adalah agar hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap tindak pidana kecelakaan lalu lintas lebih memperhatikan penerapan asas proporsionalitas dengan mempertimbangkan secara seimbang tingkat kesalahan pelaku, akibat yang ditimbulkan, dan tujuan pemidanaan. Selain itu, diperlukan konsistensi dalam penerapan pertimbangan hukum agar putusan yang dijatuhkan lebih mencerminkan rasa keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan hukum bagi masyarakat.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Asas Proporsionalitas, Tindak Pidana, Kecelakaan Lalu Lintas, Kelalaian.
</description>
<pubDate>Sat, 13 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9160</guid>
<dc:date>2026-06-13T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>TINJAUAN YURIDIS PERLINDUNGAN ANAK KORBAN EKSPLOITASI ANAK MELALUI MEDIA SOSIAL TIKTOK DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 76I UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES TASIKMALAYA KOTA</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9145</link>
<description>TINJAUAN YURIDIS PERLINDUNGAN ANAK KORBAN EKSPLOITASI ANAK MELALUI MEDIA SOSIAL TIKTOK DIHUBUNGKAN DENGAN PASAL 76I UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES TASIKMALAYA KOTA
Damayanti, Lidya Juang
ABSTRAK&#13;
TINJAUAN YURIDIS PERLINDUNGAN ANAK KORBAN EKSPLOITASI&#13;
ANAK MELALUI MEDIA SOSIAL TIKTOK DIHUBUNGKAN DENGAN&#13;
PASAL 76I UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG&#13;
PERLINDUNGAN ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES TASIKMALAYA&#13;
KOTA&#13;
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan media sosial,&#13;
khususnya TikTok, yang selain memberikan dampak positif juga menimbulkan&#13;
potensi terjadinya eksploitasi terhadap anak. Dalam praktiknya, anak seringkali&#13;
dijadikan objek konten untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun popularitas&#13;
tanpa memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak. Kondisi tersebut berpotensi&#13;
melanggar ketentuan hukum, khususnya Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun&#13;
2014 tentang Perlindungan Anak. Di Kota Tasikmalaya, fenomena ini menunjukkan&#13;
adanya kesenjangan antara ketentuan normatif (das sollen) dengan realitas yang terjadi&#13;
di masyarakat (das sein), sehingga perlindungan hukum terhadap anak belum berjalan&#13;
secara optimal.&#13;
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai tnjauan yuridis&#13;
dalam perlindungan anak korban eksploitasi anak melalui media sosial TikTok&#13;
dihubungkan dengan Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2016 tentang&#13;
Perlindungan Anak di wilayah hukum Polres Tasikmalaya Kota, faktor-faktor serta&#13;
upaya yang dilakukan dalam perlindungan anak korban eksploitasi melalui TikTok&#13;
dihubungkan dengan Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang&#13;
Perlindungan Anak di wilayah hukum polres tasikmalaya kota.&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penulisan deskriptif analitis&#13;
dengan pendekatan yuridis empiris. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap&#13;
bahan hukum primer, dan bahan hukum sekunder, serta didukung dengan data&#13;
lapangan melalui wawancara dengan pihak terkait.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap anak korban&#13;
eksploitasi melalui media sosial TikTok di wilayah hukum Polres Tasikmalaya Kota&#13;
belum berjalan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain&#13;
rendahnya literasi digital, lemahnya pengawasan orang tua, faktor ekonomi, serta&#13;
pengaruh lingkungan sosial. Kendala dalam penegakan hukum meliputi kesulitan&#13;
pembuktian, keterbatasan pengawasan di ruang digital, serta rendahnya kesadaran&#13;
hukum masyarakat. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut&#13;
antara lain melalui peningkatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, penguatan&#13;
peran orang tua dalam melakukan pengawasan terhadap anak, serta penegakan hukum&#13;
yang lebih tegas terhadap pelaku eksploitasi anak. Pendekatan yang digunakan lebih&#13;
menitikberatkan pada upaya preventif dan edukatif tanpa mengabaikan aspek represif.&#13;
Pemerintah dan aparat penegak hukum diharapkan lebih meningkatkan&#13;
pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik eksploitasi anak melalui media&#13;
sosial dengan menyesuaikan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat&#13;
sehingga hak-hak anak korban eksploitasi digital mendapatkan perlindungan.
</description>
<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9145</guid>
<dc:date>2026-07-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>KLAUSULA BAKU DALAM KONTRAK PENGADAAN BENIH DIHUBUNGKAN DNGAN PASAL 1 ANGKA 11 UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI  DI KECAMATAN CIKONENG KABUPATEN CIAMIS</title>
<link>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9118</link>
<description>KLAUSULA BAKU DALAM KONTRAK PENGADAAN BENIH DIHUBUNGKAN DNGAN PASAL 1 ANGKA 11 UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI  DI KECAMATAN CIKONENG KABUPATEN CIAMIS
Suwanto, Dida Firnandika
KLAUSULA BAKU DALAM KONTRAK PENGADAAN BENIH DIHUBUNGKAN DNGAN PASAL 1 ANGKA 11 UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PETANI  DI KECAMATAN CIKONENG KABUPATEN CIAMIS&#13;
Pemerintah melalui Dinas Kehutanan melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai garda terdepan dalam penyediaan benih. Kemitraan ini idealnya merupakan bentuk pemberdayaan ekonomi lokal, di mana petani tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penyedia utama kebutuhan penghijauan di tanah mereka sendiri. Namun, dalam jalinan kerja sama ini, muncul sebuah tembok besar bernama Klausula Baku.&#13;
Bagaimana klausula baku dalam kontrak pengadaan benih dihubungkan dengan Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan pemberdayaan petani di Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis, bagaimana karakteristik klausula baku dalam kontrak pengadaan benih, dan bagaimana perlindungan hukum bagi Gapoktan terhadap klausula yang berpotensi merugikan (eksonerasi) dalam kontrak pengadaan benih.&#13;
Penelitian ini menggunakan metoda penulisan Deskriptif Analitis yaitu suatu pendekatan studi yang bertujuan untuk memberikan gambaran, penjelasan dan kejelasan permasalahan serta merumuskan kembali permasalahan tersebut berdasarkan data yang diperoleh selama studi untuk kemudian dilanjutkan dengan analisis guna memperoleh susunan pemikiran dan pemahaman yang sistematis dan obyektif.&#13;
Penggunaan klausula baku dalam kontrak pengadaan benih ini efisien secara birokrasi, namun mengesampingkan asas kesetaraan gender/para pihak dalam hukum perjanjian, Kontrak pengadaan/kemitraan antara Dinas Kehutanan dan Gapoktan di Kabupaten Ciamis belum mencerminkan hubungan kemitraan yang setara (equal partnership), Perlindungan Hukum Formil bagi Gapoktan terhadap klausula eksonerasi di Kabupaten Ciamis saat ini berada pada level yang sangat lemah (minimalis). Secara de jure (di atas kertas), hukum perdata menyediakan instrumen gugatan pembatalan kontrak jika ada ketidakadilan.&#13;
Dinas Kehutanan sebaiknya tidak memposisikan diri hanya sebagai pengawas yang siap menjatuhkan sanksi, menyusun HPS untuk kontrak baku, lakukan survei pasar lokal yang riil di tingkat petani Ciamis, bukan sekadar mengambil template dari daerah lain, Kontrak pemerintah sering kali dipenuhi istilah hukum yang rumit dan intimidatif bagi petani, sehingga pengurus Gapoktan sering kali menandatanganinya tanpa benar-benar paham risikonya, disarankan Dinas perlu menyusun draf kontrak dengan bahasa yang ringkas, jelas, dan menghindari pasal-pasal karet.
</description>
<pubDate>Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/9118</guid>
<dc:date>2026-07-10T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
