<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Agus Budiman, S.Pd., M.Sc</title>
<link href="http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/78" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/78</id>
<updated>2026-04-24T18:53:30Z</updated>
<dc:date>2026-04-24T18:53:30Z</dc:date>
<entry>
<title>Culture-Based History Teaching Materials as a Process of Cultivating Nationalism in Elementary Schools in Indonesia and Malaysia</title>
<link href="http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8287" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aan, Suryana</name>
</author>
<author>
<name>Sri, Pajriah</name>
</author>
<author>
<name>Umi, Saidatul Arryennah Bt. Madsah</name>
</author>
<author>
<name>Wulan, Sondarika</name>
</author>
<author>
<name>Pani, Silviani</name>
</author>
<id>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/8287</id>
<updated>2025-12-09T05:50:08Z</updated>
<published>2025-11-25T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Culture-Based History Teaching Materials as a Process of Cultivating Nationalism in Elementary Schools in Indonesia and Malaysia
Aan, Suryana; Sri, Pajriah; Umi, Saidatul Arryennah Bt. Madsah; Wulan, Sondarika; Pani, Silviani
History education in Indonesian and Malaysian elementary schools in the 21st century faces many challenges: limited time, inadequate facilities and infrastructure, textbook-based history teaching materials, frequent curriculum changes, and obstacles to instilling nationalism in students. This study aims to analyse culture-based history teaching materials in Indonesian and Malaysian elementary schools as a process of instilling nationalism in students. The study used a qualitative literature study approach by identifying and selecting relevant literature sources. The data collection method used literature documentation. The data analysis technique used was descriptive qualitative. The results show that culture-based history teaching materials in Indonesia emphasise the integration of local cultural values, such as noble values, religion, morals, and truth, into the learning process. Meanwhile, in Malaysia, history is a compulsory subject taught at the elementary, secondary, and tertiary levels within the Malaysian curriculum. History education is implemented with a Malaysia-centred approach with the aim of instilling a sense of love for the homeland, patriotism, and the formation of a united Malaysian nation. History teaching materials integrate cultural heritage education into the Malaysian education curriculum. The implications of this research are that this research shows that cultural-based history teaching materials are effective in instilling nationalism and noble values in students.
</summary>
<dc:date>2025-11-25T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>B.D.1</title>
<link href="http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/2962" rel="alternate"/>
<author>
<name>Isyanto, Agus Yuniawan</name>
</author>
<id>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/2962</id>
<updated>2023-04-21T14:53:48Z</updated>
<published>2022-02-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">B.D.1
Isyanto, Agus Yuniawan
</summary>
<dc:date>2022-02-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Eksistensi Kesenian Tradisional Wayang Golek Purwa di Kabupaten Ciamis di Eera Globalisasi</title>
<link href="http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/236" rel="alternate"/>
<author>
<name>Agus, Gunawan</name>
</author>
<author>
<name>Kuswandi</name>
</author>
<author>
<name>Agus, Budiman</name>
</author>
<author>
<name>Yeni, Wijayanti</name>
</author>
<author>
<name>Sri, Pajriah</name>
</author>
<author>
<name>Yadi, Kusmayadi</name>
</author>
<id>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/236</id>
<updated>2019-08-03T08:51:25Z</updated>
<published>2012-10-06T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Eksistensi Kesenian Tradisional Wayang Golek Purwa di Kabupaten Ciamis di Eera Globalisasi
Agus, Gunawan; Kuswandi; Agus, Budiman; Yeni, Wijayanti; Sri, Pajriah; Yadi, Kusmayadi
Keberadaan seni tradisional wayang golek purwa menjadikan seni budaya yang masih bertahan di era globalisasi. tujuan dari penelitian ini menggambarkan keberadaan seni wayang golek purwa asal Kabupaten ciamis sebelum era globalisasi, ungkap perkembangannya setelah masuk setelah era globalisasi dan upaya pelestarian seni tradisional tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis. Bahwa wayang Golek Purwa merupakan pertunjukan wayang/boneka kayu, di sisipi dengan cerita Mahabrata dan Ramayana. Dalam perkembanganya Cerita Wayang Purwa disisipi dengan nilai-nilai tuntunan dan tontonan masyarakat yang sering ditampilkan oleh para pimpinan Kabupaten Ciamis dengan maksud untuk menyebarkan dan melestarikan seni tradisional. seiring dengan perubahan zaman pertunjukan seni wayang golek mengalami kejenuhan sehingga jarang lagi ditampilkan pada acara-acara tertentu. Maka pemerintah mengupayakan kembali melestarikan seni tradisional Wayang Golek Purwa ini dengan membuat perlombaan dalang, melakukan penelitian dan dibuat buku yang diterbitkan.
</summary>
<dc:date>2012-10-06T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>POLITIK APARTHEID DI AFRIKA SELATAN</title>
<link href="http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/79" rel="alternate"/>
<author>
<name>Agus, Budiman</name>
</author>
<id>http://repository.unigal.ac.id:8080/handle/123456789/79</id>
<updated>2018-04-09T11:23:03Z</updated>
<published>2013-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">POLITIK APARTHEID DI AFRIKA SELATAN
Agus, Budiman
Diskriminasi rasial salah satu masalah yang sangat besar dan terdapat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan yang paling dominan terdapat di Afrika Selatan dengan politik Apartheid. Oleh karena itu, Afrika Selatan menjadi fokus perjuangan anti rasialisme menuju realisasi keadilan. Kata Apartheid berarti "keterpisahan" dalam bahasa Afrika dan itu menggambarkan kaku rasial yang mengatur pembagian antara populasi minoritas kulit putih dan mayoritas penduduk kulit putih. Perjuangan mayoritas kulit hitam Afrika melawan dominasi minoritas kulit putih merupakan konflik rasial utama dan terakhir. Masyarakat Internasional aktif mendorongnya. Namun, kelompok kulit putih cukup banyak dan terlalu kuat sedangkan kekuatan kulit hitam begitu lemah dan terpecah belah, sampai pada akhirnya nanti muncul seorang yang bernama Nelson Mandela yang ikut aktif dalam memperjuangkan penghapusan politik Apartheid di Afrika Selatan, atas dasar agar krisis rasial dan konflik yang terjadi di sana segera selesai dan Afrika Selatan menjadi negara yang kondusif.
</summary>
<dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
